“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS: Az-Zukhruf : 11)

Akhir tahun di negara tropis seperti Indonesia, hujan selalu datang menjumpai bumi. Penghuni bumi menyambutnya dengan beragam respon. Ada yang menganggapnya berkah dan tak sedikit yang menganggapnya sebagai sesuatu yang menakutkan. Biasanya daerah langganan banjir akan menganggap hujan sebagai pertanda akan datang bencana alam.

Begitu kejamkah Tuhan pada makhluknya yang lemah sehingga menurunkan hujan yang mengakibatkan banjir. Bila kita dalami Qalam illahi diatas ternyata Allah SWT menurunkan air yang dikenal dengan nama hujan sesuai dengan keperluan,itu artinya banjir yang kemudian terjadi merupakan hal yang tidak diinginkanNya.

Hal itu diperkuat dengan firmanNya, “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” [ar-Rûm/30:41].

Itu artinya banjir merupakan manifestasi tindakan manusia sebelum banjir itu terjadi. Hujan bukanlah penyebab utama banjir, hujan adalah faktor sekunder sedangkan faktor primernya adalah ulah manusia itu sendiri. Hal itu berarti tidak ada bencana alam didunia ini yang tidak didahului oleh manusia itu sendiri.

Dalam ayat yang lain Allah mengatakan; “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmatNya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS: Asy-Syuura [41] : 28).

Jelas sudah bahwa hujan malah sebagai ‘obat’ putus asa bagi manusia, sebagai rahmat,bukan sebaliknya. Kehadiran hujan harus kita sambut dengan suka cita, penuh dengan kegirangan, sekaligus renungan dosa bila hujan nantinya berakhir dengan banjir. Betapa kita telah merusak alam ini sehingga banjir datang setelah rahmat hadir.

Pada ayat yang lain Allah menegaskan;“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9).

Hujan juga menjadi simbol kehidupan, dengan hujan pohon-pohon tumbuh dan dengan begitu manusia memperoleh manfaat untuk melanjutkan kehidupannya. Kitalah yang kemudian kurang bersyukur sehingga keberkahan hujan malah menjadi bencana akibat ulah tangan kita sendiri. Kita gemar mengambil pembenaran atas tindakan koruptif terhadap alam semesta.

Salah satu cara agar kita menjadi hambaNya yang bersyukur, dan hujan kembali ke fitrahnya sebagai berkah dan rahmat, ialah dengan menjaga hutan kita, lingkungan sekitar, prilaku sadar kebersihan lingkungan dan tindakan lain yang tidak merusak. Jangan buang sampah disaluran air, menebas pohon-pohon seenak ego kita walaupun dengan alasan ekonomi.

Semoga kita menjadi hambaNya yang selalu bersyukur dengan menjaga lingkungan dan alam semesta. Semoga kita tidak menjadi pribadi yang gemar melakukan korupsi terhadap alam dan lingkungan kita, hujan datang kita harusnya bahagia.

 

[1]. Lihat Tafsîr al-Qur’ânil ‘Azhîm karya Ibnu Katsîr (3/576).