Kita (manusia) merupakan makhluk yang mau segalanya. Demi itu, apapun akan dilakukan asal mampu. Dalam soal makan misalnya, bila perut masih mampu maka semua makanan yang masih ada dimakan tanpa peduli orang lain lapar. Hal yang sama kita jumpai pada orang-orang yang secara harta sudah cukup, namun baginya belum cukup.

Akibatnya rasa cinta pada harta mengalahkan cinta yang harusnya diberikan kepada Allah. “dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan” [Al-Fajr/89:20]. Perkataan Allah ini merupakan bukti bahwa ada diantara kita yang mencintai harta berlebihan. Sikap yang kemudian melahirkan kerakusan, ketamakan dalam urusan harta. Seolah-olah harta adalah tujuan hidup padahal harta hanya alat.

Harta sebagai alat kita gunakan untuk mendekatkan diri pada illahi bukan malah sebaliknya. Jangan sampai harta memalingkan wajah kita pada pemilik harta dan kita. Harta harus digunakan sebagai alat untuk menjadi taqwa, melalui sedeqah, infak, kewajiban zakat, hibah, santunan, maupun kegiatan lain yang mendekatkan kita pada Allah SWT.

Bila demikian, mengapa masih saja kecintaan pada alat telah mereduksi tujuan itu sendiri. Ibnul Qayyim berkata; Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, (2) Kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan, dan (3) Penyesalan yang tidak pernah berhenti.[Ighâtsatul Lahafân (I/87-88) dan lihat Mawâridul Amân al-Muntaqa min Ighâtsatil Lahafân (hlm. 83-84)]

Itu artinya sikap rakus akan harta, cinta dunia, malah menjadi penjara bagi kita. Kita bahkan akan menjadi pribadi yang akan menyesal nantinya. Bukan hanya itu, rakus akan harta, jabatan, dan dunia hanya menjadi ‘penyakit’ bagi jiwa. Tiada lagi ketenangan, kedamaian, maupun ketentraman dalam diri. Bukankah kita mengejar dunia awalnya berpikir akan bahagia bila mendapatkannya?

Prediksi itu akhirnya salah, rakusnya kita akan harta, tahta, dan segala hal yang kita anggap nikmat, ternyata malah menjadi petaka dunia dan terutama akhirat. Tidak ada kebahagiaan dunia bagi kita yang rakus harta, cinta jabatan. Kita hanya hidup dalam anggapan-anggapan, termasuk anggapan akan bahagia. Celakanya lagi, kerakusan kita menjadi pengawal yang akan menyeret ke neraka.

Jabatan dan harta yang begitu cintai, yang begitu kita banggakan, pada akhirnya akan menjadi pengkhianat. Merekalah yang akan membuat kita sengsara dunia-akhirat apabila salah menggunakan mereka. Jangan pernah mencintai alat, gunakan alat sesuai tupoksinya. Mari perjuangkan tujuan dengan alat yang kita miliki.

Gunakan uang untuk bersedeqah, infak, zakat, dan kegiatan lain yang sesuai syariat Islam. Gunakan jabatan sebagai alat yang membantu kebenaran, kebaikan, kemakmuran, dan kesejahteraan orang lain.