Che Guevara

Hutan itu dipenuhi pohon-pohon yang masih kokoh. Penghuninya juga masih beringas, saling terkam demi melanjutkan hidup. Kehidupan berlangsung asal ada yang mati, hukumnya siapa yang kuat dia yang menang. Belas kasih hanya bagi anak dan family sendiri.

Konon, hutan itu kini sedang menghadiahi para penghuninya dengan pesta. Biasanya pesta akan menceriahkan, menggembirakan, bahkan membuat yang tak saling kenal akan bersapa. Tapi itu dahulu, kini para penghuni hutan itu sedang berpacu dengan waktu untuk saling memangsa. Hanya demi 5 tahun kekuasaan, hanya demi gengsi, hanya demi-demi yang pada akhirnya merugikan penghuni hutan.

Pertarungan iblis dan hati telah mendistorsi alat sebagai tujuan dan tujuan hanya fiksi. Sementara, diujung sana jutaan penghuni hutan kelaparan, tak ada lagi makanan tersisa, dihabiskan para koruptor. Tak mungkin saling memakan, tetapi saling membantu mulai punah. Kepunahan yang menimpa dinosaurus, kini menimpa pada hati yang ikhlas saling membantu.

Kekuasaan sebagai alat disalahgunakan, hingga kekuasaan malah menyusahkan padahal kekuasaan harusnya memudahkan bahkan harusnya membahagiakan pemegang kekuasaan tertinggi. Sayangnya, pelaksana kekuasaan malah menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menyengsarakan pemegang kekuasaan.

Hutan rimba yang kaya akan sumber daya alam, harusnya mampu mensejahterakan pemegang kekuasaan tertinggi. Apa daya kekayaan alam hanya dinikmati mereka yang ada diluar hutan, sementara para penghuni hutan harus saling mencakar, memangsa, membunuh, menggonggong, menggigit. Pesta yang sejatinya dipenuhi berkah malah mengundang bencana dengan segala fitnah yang begitu subur dimana-mana.