Ilustrasi. dok. Pixabay.com

Dalam sebuah bukunya, Hasan Tiro tokoh pergerakan pembebasan Aceh Merdeka, atau yang lebih dikenal dengan GAM, menyatakan bahwa Aceh adalah sebuah bangsa. Menurutnya, karena Aceh sebuah bangsa maka wajar bila Aceh menganggap telah terjadi kolonialisme atas Aceh sehingga merdeka menjadi hak.

Jauh sebelum Hasan Tiro, ketika kita melirik Eropa, pernah ada pula perang yang dilandasi dengan kata ‘bangsa’. Adalah Hitler yang mengusung keunggulan sebuah bangsa atas bangsa lainnya. Perang yang memundurkan peradaban manusia itu, tercatat dalam sejarah sebagai perang yang paling banyak melibatkan bangsa-bangsa didunia.

Dan kita semua tahu, perang antar bangsa tidak pernah menguntungkan. Barangkali pemenang dalam perang dikemudian hari merasa untung, sebabnya apa? Pemenang dengan leluasa menulis dan menarasikan sejarah sesuai dengan kehendaknya. Narasi sejarah versi pemenang bukan hanya diranah politik, bahkan diranah Agama hal yang sama juga terjadi.

Kita juga sering menemui perkara demikian disekitar kita. Entah kepuasan apa yang didapat dengan cerita bohong soal dimasa lalu. Kejayaan masa lalu, terutama yang dilakukan bangsa tertentu biasanya menjadi konten para elit politik, pejabat, bahkan agamawan ketika berpidato didepan rakyat yang kurang membaca sejarah. Secara lisan penyebaran sejarah terjadi tanpa diperintah.

Kejayaan sebuah bangsa terus digelorakan agar memotivasi, namun yang terjadi terkadang memprovokasi. Dalam literatur Islam, semua manusia termasuk sebuah bangsa adalah sama. Hal yang memverifikasi unggulnya sebuah bangsa dihadapan Yang Maha Kuasa ialah ketaqwaan dan ilmu yang dimiliki.

Konsep taqwa dan ilmu dalam masyarakat yang terlanjur bigot atas suku bangsanya sendiri, terkadang ditolak. Menariknya lagi, penolakan dilakukan oleh penganut Islam. Padahal konsep taqwa dan ilmu berasal dari Islam, itu artinya kebangsaan, kesukuan, Ras, terkadang diatas syariat. Bukan tidak boleh pada hal-hal tersebut akan tetapi taqwa dan ilmu hendaknya lebih utama. Tanpa keduanya sebuah bangsa hanya akan menjadi penonton.

Betapa hebatnya sebuah bangsa dimasa lalu, betapa jayanya sebuah bangsa dimasa lalu, kini hal itu hanya bacaan dalam tulisan, hanya hal yang disampaikan secara lisan tanpa mampu mempengaruhi angka kemunduran bangsa itu sendiri. Islam sangat peduli pada aturan main atas bedanya bangsa-bangsa (sunatullah). Dalam Islam diatur bagaimana kita yang berbeda suku dan bangsa harusnya hidup.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

Dan benarlah tidak ada dalil yang mengharuskan kita saling terkam karena berbeda suku dan bangsa. Jelas pula bagi Islam bangsa yang paling mulia adalah bangsa yang paling bertaqwa. Bukan bangsa yang pernah jaya, bukan pula bangsa yang paling hebat dalam perang. Konsekuensi yang harus kita jalankan untuk menjadi mulia hanya dengan taqwa.

Jika ingin bangsa kita mulia, beradab, derajatnya tinggi, taqwa adalah jalannya. Dan meraih gelar taqwa haruslah dengan ilmu. Imam Bukhari dalam kitab shahihnya membuat Bab khusus tentang Berilmu sebelum berucap dan beramal. Ada begitu banyak ayat yang membahas celaan beramal tanpa ilmu dan keutamaan ilmu dalam Islam [2].

Konsekuensi ini mengharuskan kita terus mau belajar, memperoleh ilmu agar kita sukses dunia-akhirat. Menjadi bangsa mulia, bangsa hebat, bukan dengan slogan akan tetapi dengan taqwa dan ilmu. Relevansi taqwa dan ilmu akan terdeskripsi dari amalan kita.

Orang-orang yang dapat meraih taqwa hanyalah orang-orang berilmu. Tanpa ilmu kita tidak mampu menemukan, mengambil, meraih, subtansi dari amalan. Wajar bila shalat dan korupsi dilakukan bersamaan, wajar bila suap dan puasa dilakukan bersamaan, itu karena amalan tanpa didasari ilmu. Amalan hanya ritual tanpa hakekat, tak mampu menemukan hakekat karena fakir ilmu.

Karenanya bangsa apapun, bila ingin menjadi leader harus memiliki dan menguasai ilmu. Bahkan Allah mengilustrasikan bangsa yang tak berilmu sebagai seburuk-buruk binatang [3]. Ilustrasi ini mengharuskan kita sebagai manusia terus memperoleh ilmu, bila tidak kita tak beda dengan Anjing, Babi, dan binatang lainnya. Mari menjadi bangsa mulia dengan taqwa, dan berilmu adalah syarat utama meraih gelar taqwa.


[1]. Ibnu Katsir

[2]. Ibnul Qayyim menyebutkan permasalahan ini dalam kitab Beliau yang masyhur, Miftah Darus Sa`adah. Cobalah untuk menelaahnya. Sungguh untuk memperolehnya, para ulama kita berjalan kaki yang tidak sanggup ditempuh oleh kuda.

[3] Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah, ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa. [Al Anfal: 22].