Dok.pribadi/gerobak arabica

Alhamdulillah, kita sebagai hambaNya yang lemah, penuh dosa, penuh khilaf, kekurangan, hendaknya selalu memujiNya atas segala kenikmatan yang diberikan, termasuk nikmat kesempatan untuk terus beribadah. Sebuah nikmat yang belum tentu dimiliki orang lain, idealnya harus digunakan sebaik mungkin.

Tulisan ringan ini hanya bercerita soal kopi yang formulasikan dengan Milo. Kebetulan seorang teman yang sedang menyerap ilmu di negeri jiran (Malaysia) membawakan Milo dari sana. Kabar nikmatnya Milo asal Malaysia membuat penulis mencoba lobby teman. Hasilnya Milo tiba, ah rasanya kolaborasi dengan kopi Arabica di Gerobak Arabica patut dicoba. Mengapa dengan Arabica? Menurut saintis kopi, proses Arabica lebih pure dibandingkan Robusta. Kualitasnya juga lebih baik dari Robusta, sebab itu harga Arabica lebih mahal.

Fakta ini cukup bagi kita untuk tetap mempertahankan orisinalitas. Para pemikir, pelajar, maupun penulis yang orisinalitasnya terjaga akan lebih bernilai. Kalaupun harus mengkolaborasi beberapa pemikiran, orisinalitasnya tetap terjaga. Penikmat kopi, ilmu, pemikiran, ide, akan tahu mana original dan mana plagiat, pengekor, maupun pengutip sampah yang disebarluaskan. Era ini semakin sulit menemukan orisinalitas, kalaupun ada kurang kualitas.

‘Penyakit’ intelektual era ini dimulai dari pola berpikir yang dangkal, ataupun enggan meneliti. Daya kritis punah seiring kepintaran para penebar hoax memoles fitnah, angka statistik, menggunakan premis-premis yang sebenarnya paradoks. Betapa mewah kesannya, Milo dicampur Arabica akan tetapi mewah ternyata tak menjamin rasa. Sama halnya ketika kemewahan infrastruktur begitu diagungkan namun utang terus bertambah. Subtansi bernegara bukanlah kemewahan saja, bukan pula angka-angka rekayasa yang hanya menyesatkan.

Kita pantas terkejut misalnya dalam kasus plagiator yang diundang istana. Kasus ini seolah menggambarkan kualitas protokoler istana negara. Padahal, bila seorang presiden dengan mudah tertipu bahkan memberikan hadiah bagi plagiator, maka bisa dibayangkan nasib intelektualitas bangsa ini.

Artinya bohong dan plagiat ditolerir oleh elit bangsa ini. Sangat disayangkan untuk urusan orisinalitas saja bangsa ini tidak peduli, padahal orisinalitas akan menentukan intelektualitas sebuah bangsa. Dengan demikian, wajar bila hingga hari ini mobnas (esemka) yang pernah diumbar sebagai karya anak bangsa belum diproduksi, jangan-jangan mesinnya plagiat.

Mewah memang, namun kemewahan, kehebatan yang tidak original hanyalah menipu diri sendiri. Kopi Arabica dan Milo asal negeri jiran (Malaysia) punya rasa beda, punya orisinalitas sendiri. Saran saya, keduanya dipisahkan. Biarkan orisinalitas masing-masing memanjakan lidah kita.