Dok.pixabay.com

Dia begitu serius memperhatikan layar handphonenya, sesekali termenung. Tampak gusar meski tak segusar para caleg, maklum saja akhir tahun. Ia harus berhitung dan memperhitungkan angka demi angka setelah proyek bersama salah satu instansi selesai. Begitulah pengaruh angka bagi seorang teman yang baru menginjakkan kakinya didunia tender.

Diakui atau tidak, kita sangat bergantung dengan angka. Setiap saat kita selalu menjumpai angka, urusan bisnis, politik, prestasi, bahkan urusan Agama sekalipun. Dalam bisnis, angka menjadi penting guna menentukan sukses tidaknya pebisnis menjalankan bisnisnya. Biasanya hitungan yang salah akan mempengaruhi hasil bisnis, angka sangat berperan. Pebisnis harus bersahabat sekalipun bermusuhan dengan angka.

Para pebisnis akan dan harus menganalisa angka-angka yang ditunjukkan statistik. Melalui analisa angka-angka, pebisnis akan mendapatkan target angka yang ingin diraih. Statistik memegang peranan penting dalam penentuan angka, statistik sendiri merupakan suatu pengetahuan yang berkaitan dengan metode pengumpulan data, pengolahan data, analisisnya, serta penarikan kesimpulan berdasarkan kumpulan data dan penganalisisan yang dilaksanakan[1].

Ada pula yang mendefinisikan statistik sebagai ilmu dan seni perkembangan dan metode yang paling efektif untuk pengumpulan, pentabulasian, dan interpretasi data kuantitatif sedemikian rupa, sehingga kesalahan dalam kesimpulan dan estimasi dapat diperkirakan dengan penggunaan penalaran induktif yang didasarkan pada matematik probabilitas (peluang).[2]

Kedua pendefinisian diatas menggambarkan peran angka didalam statistik. Melalui statistik angka dapat mengelabui, karenanya kita perlu berhati-hati. Agar tidak tertipu kita mesti memiliki ilmu analisa data. Definisi analisa data menurut ahli misalnya proses mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar[3]. Statistik termasuk analisis data secara inferensia, fungsinya membuat generalisasi hasil suatu penelitian sampel untuk populasi.

Negara demokrasi seperti Indonesia sangat bergantung dengan statistik. Itu artinya angka-angka menjadi penting. Mulai dari angka pemilih hingga angka yang berapa didapati bila bisa mengatur korupsi. Bahkan demi mempengaruhi pemilih terkadang angka digunakan. Misalnya ‘pelacuran’ ilmu yang dilakukan peneliti dengan angka-angka persentase kemenangan paslon yang membayar.

Angka diganti dengan angka, angka dibayar dengan angka pula. Ada lembaga survei misalnya yang dibayar milyaran dengan arahan pembayar untuk memenangkan pembayar. Selain itu, angka juga digunakan untuk mengelabui rakyat awam, misalnya angka pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, angka pengangguran, dan angka-angka lainnya, semuanya dilakukan demi angka (uang).

Para pendiri negara ini barangkali sadar betul akan hal itu. Mereka menolak one man man vote dalam memilih pemimpin. Mereka lebih memilih cara perwakilan, sesuai dengan semangat sila ke-IV Pancasila. Mereka sadar dan paham, angka akan mempolarisasi rakyat Indonesia. Dan benar, selama ini kita saksikan ‘perang’ terjadi di sosial media, maupun dikehidupan nyata terkait angka.

Dalam urusan Agama perdebatan angka juga tak kalah sengitnya. Misalnya Islam dan Kristen berdebat soal Tuhan, penentuan 1 Ramadhan atau Syawal dalam Islam juga terkadang mempolarisasi umat Islam. Soal jumlah raka’at Taraweh, dan soal pembagian harta warisan, merupakan masalah-masalah kontemporer yang melibatkan angka dan bisa menjadi konflik, bahkan kekerasan.

Karenanya, umat Islam dan rakyat Indonesia pada umumnya, harus berhati-hati dengan angka. Jangan sampai kita lupa angka yang paling penting karena memperdebatkan angka-angka didunia, angka kebaikan (pahala) dan maksiat (dosa). Nabi bersabda

“Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama sampai yang terakhir, pada waktu hari tertentu dalam keadaan berdiri selama empat puluh tahun.Pandangan-pandangan mereka menatap(ke langit),menanti pengadilan Allah.”[4]

Angka sabda Nabi diatas harus kita siapkan, angka yang sering kita lupakan seiring dengan godaan angka yang temporer. Kita lebih sering memperdebatkan angka survei, nomor capres, caleg, ketimbang angka maksiat yang terus kita tuai, sementara angka pahala belum seberapa. Kita begitu semangat berinvestasi dunia namun lalai berinvestasi akhirat, begitu detail dengan pertambahan, pengurangan, dan pengkalian angka duniawi ketimbang akhirat.

Semoga kedepan kita terhindar dari angka-angka yang membuat kita lupa pada Allah, angka-angka yang membuat kita saling membenci, angka-angka yang menjadikan kita pribadi tamak, angka-angka yang menempatkan kita pada tempat terhina dihadapan Yang Maha Kuasa (Allah Azza wa Jalla)… Aamiin Yaa Rabb


[1] Prof.Dr. Sudjana, M. A., M.Sc.
[2] Anderson & Bancroft
[3] Lexy J. Moleong
[4] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dan ath-Thabrani. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib, no.3591