ilustrasi guru di kamboja/dok.pixabay

Wajahnya tampak buram, seperti kertas coretan yang disediakan panitia CPNS. Sore itu ia tampak tenang namun ada kemarahan didalam jiwa. Sudah beberapa bulan pemerintah tidak melunasi kewajiban padanya, padahal ia sudah sepenuh hati memberikan hak kepada peserta didik. Begitulah taqdir seorang guru honorer, tak sesuai dengan kata honorer yang bermakna orang yang dihormati. Namun kata itu hanya manis dibibir, bahkan SK yang dibuat pemerintah menjadi label bahwa ada ciri munafik didalamnya.

Nasib guru honorer memang tak seindah anggota dewan, tak seenak bohir. Padahal, masa depan bangsa ada ditangan guru namun semua hanya retorika dipanggung politik. Barangkali karena guru, tuntutannya sejuta namun upah seadanya bahkan terkadang ditunda, sehingga kata melawan pemerintah diurungkan. Bangsa ini memang kurang menghargai mereka yang berilmu.

Barangkali catatan sejarah kita kurang lengkap atau barangkali kita yang malas membaca sejarah perjuangan para guru. Negeri mayoritas muslim harusnya sangat menghargai para guru. Islam sangat menghargai dan menghormati orang berilmu terutama guru. Islam mengangkat derajat orang berilmu [1] terutama guru yang bukan hanya mentransfer ilmu akan tetapi memberi teladan.

Bila demikian, mengapa nasib guru masih seperti era kolonialisme. Mengapa guru masih saja diharapkan namun tak dihargai? Ada apa dengan nurani kita, padahal tanpa guru hingga kini barangkali kita belum mampu menghitung, baca, tulis, bahkan ibadah pun tak mampu. Muaranya neraka yang akan kita dapati.

Guru adalah spiritual father atau bapak rohani bagi seorang anak didik. Dia yang memberikan santapan jiwa dan ilmu, pendidikan akhlak dan membenarkannya. Maka menghormati guru berarti menghormati kita, penghargaan guru berarti penghargaan terhadap anak-anak kita. Dengan guru itulah mereka hidup dan berkembang[2]

Vitalnya peran guru bagi kemajuan bangsa, dan bahkan urusan akhirat pun guru berperan, maka tidaklah wajar bila masih ada pemimpin yang menunda pembayaran guru. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, dan guru adalah pahlawan kontemporer.

Namun demikian, guru idealnya terus meningkatkan integritas dan kapasitas dirinya. Bukan hanya kemampuan kognitif, guru diharapkan memiliki kecerdasan sosial sehingga diteladani anak didik. Nilai-nilai transedental harus mampu menjawab kebutuhan anak didik. Guru menjadi role model bagi penerapan rahmatan lil ‘alamin.

Hasil penelitian menunjukkan 63.07 persen guru memiliki opini intoleran pada pemeluk agama lain[3]. Menurut peneliti, sampel yang dilibatkan dalam penelitian tersebut adalah 2.237 guru Muslim dari 767 kabupaten kota seluruh Indonesia yang dipilih secara acak (random). Meski masih bisa diperdebatkan, temuan ini tentu menjadi evaluasi bersama bangsa ini.

Kita tentu tidak berharap anak didik menjadi generasi yang mengumbar kebencian di sosial media maupun dikehidupan sehari-hari. Hal itu hendaknya dimulai dari para guru, apapun statusnya; ASN, Honorer, maupun bakti. Semoga kedepan, bangsa ini akan menjadi ‘pemain’ utama dalam pergaulan internasional, dan semakin bertambah generasi taqwa sebagai hasil edukasi.


[1] (QS. Al-Mujadalah 11)
[2] Syaiful Bahri Djamarah; Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif; 2010
[3] Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2018. Adapun konsep yang digunakan: pertama, religious intolerance atau ketidaksediaan untuk mempersilahkan pemeluk agama lain mengekspresikan ide atau kepentingan yang berbeda. 

Kedua, radikalisasi yang mengacu pada adopsi pandangan kelompok ekstrimis untuk memperngaruhi perubahan pandangan sosial atau politik, serta menggunakan cara uang menolak prosip demokratis.

“Terakhir, pandangan islamis yang mengacu pada pandangan Islam absolut yang cenderung tertutup dan eksklusif.