Dok.BMKG

Pukul 04:12 WIB, hari ini (21/12/2018) kembali datang gempa. Menurut BMKG Pusat gempa di darat 37 km Barat Laut Sigli-Pidie, dengan kekuatan Mag:4.9. Gempa ini dapat dirasakan warga Aceh Besar, Banda Aceh dan Sabang. Rasanya baru kemarin gempa dan tsunami datang, belum lagi baru-baru ini ditemukan 46 korban tsunami. Dan kedua peristiwa ini seolah ingin menyambut peringatan 14 tahun tsunami yang pernah melanda Aceh.

Sebuah peristiwa besar yang sangat menyedihkan pernah terjadi di Aceh. Sebuah peristiwa yang sejatinya akan mengikis sifat buruk, prilaku jahil, dan pada saat yang sama akan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita pada Allah Yang Maha Kuasa.

Peristiwa memilukan ketika ombak setinggi 15 meter menghantam Aceh bagian barat yang menyebabkan lebih dari 126.741 jiwa meninggal, 93.285 jiwa hilang, 500.000 orang kehilangan tempat tinggal, dan hampir 750.000 orang kehilangan pekerjaan, diawali dengan gempa kuat [1]. Semalam gempa itu datang lagi, meski tak sekuat (2004) akan tetapi ini signal dari Yang Maha Kuasa agar kita selalu mengingatNya.

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”[2]

Betapa mengerikan gambaran hari kiamat yang kita percayai akan datang. Dalam tafsir Al ‘Azhim, Ibnu Abbas berkata; “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat)“, maksudnya adalah bumi bergoncang dari bawahnya”[3]. Sungguh kita patut bersiap hari itu datang tanpa kita sangka-sangka. Demikian pula bila pemerintahan yang khianat, bersiaplah dengan kegoncangan dari bawah (rakyat). ‘Gempa’ politik dalam negara demokrasi hal yang lumrah, biasanya akibat ulah tangan penguasa itu sendiri, seperti halnya gempa bumi yang terjadi akibat akumulasi ulah tangan manusia pada alam.

Di Eropa keguncangan mulai nyata dengan hadirnya kelompok populis, salah satu yang sedang berlangsung di Prancis. Pada akhir tahun 2018, populisme di Eropa menunjukkan warna baru: kuning. Gerakan ‘gilet jaune’ atau ‘rompi kuning’ muncul di Perancis sebagai protes terhadap pajak bahan bakar dan berkembang menjadi demonstrasi nasional.”Orang-orang di sini adalah orang biasa, bukan hanya orang-orang yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diri mereka,” ujar Jean-Francois, seorang demonstran[4].

Barangkali gerakan 212 bisa dikatakan sebagai ‘gelombang’ goncangan dari bawah terhadap penguasa. Meski tanpa tuntutan apapun, reuni 212 (2/12/2018) cukup membuat panik. Semua media mengulas bagaimana pro-kontra kegiatan tersebut, sayang ketika hari H datang, media-media besar seperti kehilangan nyali untuk mengungkap fakta bahwa ‘gempa’ sedang melanda demokrasi negeri ini.


[1] Fenty Effendy, Ombak Perdamaian (2014)
[2] (QS. Al Zalzalah: 1-8)
[3] (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 627).
[4] VOAIndonesia (21/12/2018)