dok.alaaraby

Dolkun Isa menyesalkan sikap negara-negara Islam yang diam atas pembasmian etnis Uighur di China. Menurutnya persekusi terhadap muslim Uighur dilakukan di kamp dengan dalih mencegah terorisme[1]. Menurut human right kamp tersebut sudah disiapkan sejak April 2017.

Pemerintah Indonesia secara resmi belum menyatakan sikap, kalaupun selepas tulisan ini selesai, nasib Uighur tidaklah jauh berbeda. Satu hal yang menjadi telaah tulisan ini adalah soal tuduhan radikalisme dan ekstrimisme, serta terorisme. Hal yang sangat mirip dengan tuduhan sebuah lembaga kepada para penceramah Islam. Bedanya Islam di Indonesia mayoritas, barangkali bila minoritas, Islam di Indonesia senasib dengan Uighur.

Tuduhan diikuti hukuman, disertai dalih pembenaran tindakan oleh pemerintah China, ternyata sudah dipraktikan juga negara ini pada rakyatnya. Meski masih bisa diperdebatkan, namun arah dan polanya tak jauh beda. Contohnya tuduhan penceramah radikal, anehnya ada penilaian yang dilakukan terhadap penceramah ketika ia baru beberapa detik diatas mimbar. Stigma negatif terhadap Islam dinegeri non-muslim tidaklah mengherankan, yang unik stigma negatif tersebut juga terjadi di negeri mayoritas muslim (Indonesia).

Syukur, Alhamdulillah, umat Islam di Indonesia sangat penyabar. Meski stigma negatif dilabelkan kepada mereka, tuduhan-tuduhan tanpa dalil terus dihembuskan, umat Islam Indonesia tidak melakukan tindakan inkonstitusional. Umat Islam menyadari Orang kuat itu bukanlah orang yang jago bergulat. Akan tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.”[2]. Padahal sebagai mayoritas umat Islam dapat melakukan apapun, namun umat Islam Indonesia memilih melakukan hal yang sesuai konstitusi.

Reuni 212 (2/12/2018) yang dihadiri jutaan muslim, bahkan non-muslim ikut berbaur didalamnya, dan klimaksnya aksi itu damai penuh dengan dzikir dan pujian kepada Allah, Yang Maha Kasih, Maha Penyayang. Balutan cinta, kasih-sayang, perdamaian, toleransi, telah membungkam suara-suara yang menuduh umat Islam anarkis, intoleran, radikal, bahkan teroris.

Terkait Uighur, selain menyatakan sikap kritis terhadap pemerintah China, umat Islam di Indonesia harus mengambil pelajaran penting. Diantaranya, umat Islam harus paham politik, harus berani menjadi pengambil kebijakan dinegeri sendiri. Secara ekonomi, umat Islam Indonesia harus pula kuat agar kapitalisme tidak tumbuh subur ditengah umat Islam. Konsekuensinya, umat Islam Indonesia harus mengambil peran strategis di Indonesia.

Umat Islam di Indonesia beruntung memiliki ulama yang bukan hanya mampu soal fiqih, syariat Islam, akan tetapi ulama kita peduli pada hal kekinian, Ulama yang ideal menurut Al-Jurri[3]. Itu artinya umat Islam tinggal menjalankan ijtima’ ulama terkait dengan situasi sosial-politik kita. Tujuannya agar kita tidak ke jalan yang salah, memutuskan sesuatu tanpa ilmu bisa berujung celaka. 

Sebagai pewaris akhlak Nabi, Ulama merupakan teladan bagi kita. Mereka merupakan orang-orang yang paling takut kepada Allah[4]. Mereka tidak takut pada penguasa, sejarah mencatat Ahmad bin Hanbal pernah disiksa penguasa karena memegang teguh keyakinannya. Imam Syafi’i, guru dari Imam Ahmad bin Hanbal, tidak lepas dari tuduhan Rafidhah (pengikut Syi’ah). Beliau diseret dalam keadaan tangan terbelenggu bersama sekitar 300 orang lainnya. Imam al-Thabari, Imam al-Amidi, pengarang kitab al-Ihkam fi Usul al-Ahkam, Imam Nasa’i, adalah contoh ulama besar yang pernah disiksa para penguasa, bahkan Imam Abu Hanifah, pemuka mazhab Hanafi, berulangkali disiksa penguasa karena menolak diangkat sebagai hakim[5].

Deretan ulama yang lebih takut kepada Allah dan kemudian dikriminalisasi oleh penguasa ternyata bukan hal baru. Dimasa lalu hingga kini hal itu terus terjadi, karenanya kita harus menjaga dan bersama ulama. Semoga ulama-ulama yang berpegang teguh pada tali Allah, ulama-ulama yang tidak menjilat penguasa demi uang dan jabatan masih ada sehingga kita yang awam masih memiliki sosok teladan.

Dengan demikian, urusan keummatan, seperti politik dapat kita minta petunjuk dari mereka (Ulama). Kita berharap para Ulama juga melakukan musyawarah mufakat soal siapa wakil rakyat yang boleh dan tidak boleh dipilih, bukan sebatas capres dan cawapres. Kita pun berharap ulama Indonesia akan memberi pencerahan-pencerahan atas persoalan-persoalan kekinian, semoga saudara-saudara Uighur diberi Allah kesabaran dan kekuatan, dan kita umat Islam di Indonesia jangan sampai mengalami hal yang sama.


[1] Wawancara FRANCE 24 dengan Dolkun Isa, pemimpin Uighur
[2] shahih, Al-Bukhari (6114) dan Muslim (2609)
[3] Kitab Akhlaq al-Ulama’ karya Abu Bakar Muhammad bin al-Husain bin Abdullah al-Ajurri (360 H)
[4]  (QS Faathir [35]: 27).
[5] Nadirsya Hosen; Kisah lama Penyiksaan Ulama Yang Berbeda Pandangan