Ilustrasi

Desember punya cerita sedih, namun Desember sebenarnya hanya akhir tahun masehi. Dalam catatan saya ada euforia ketika Jaenudin berhutang lagi, dia senang memberi makan anak-anaknya dengan utang yang jelas-jelas riba. Maklum, utangnya dibayar plus bunga pada tetangga. Secara bahasa, riba berarti ziyadah (tambahan) tau nama’ (berkembang). Jaenudin utang pada bank dan lembaga yang sudah pasti riba, anehnya ada anaknya yang senang dengan utang tersebut.

“Dan disebabkan karena mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami menyediakan untuk orang-orang kafir diantara mereka itu siksa yang amat pedih” [1]

Islam dengan jelas mengharamkan riba, tidak ada dalil yang mengharuskan kita senang dengan riba. Utang yang dibungkus dengan pembelian kedai tidak mengharuskan kita senang. Bila tujuannya agar dipuji anak-anaknya, Jaenudin salah besar. Penjual kedai bukan orang-orang bodoh, mereka sudah punya rencana besar lainnya. Jaenudin mulai kehilangan kepercayaan dari anak-anaknya sehingga membeli saham kedai dengan utang diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan terhadap dirinya.

Selama ini Jaenudin memang dikenal suka utang dan bangga membangun rumah dari hasil utang. Padahal dalam Islam dikatakan; “Sesungguhnya seseorang yang (biasa) berhutang, jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya”[2]. Jadi jangan terkejut bila Jaenudin suka berdusta, maklum ia punya kebiasaan unik (utang).

Sebagai kepala rumah tangga Jaenudin ingin dianggap sukses, meskipun setiap bulan terus berutang. Kini utang terus bertambah, bukannya malu malah membanggakan diri. Salah satu butir Pancasila menyebutkan bahwa bergaya hidup mewah bukanlah Pancasilais. Tak elok bangga dan bergaya hidup mewah dengan utang. Harusnya kesederhanaan menjadi prioritas, tak perlu bangga dengan riba. Semoga Kita semua terhindar dari riba.


[1] (Q.S An-Nisa: 161)
[2] (HR Al-Bukhaari no. 832 dan Muslim no. 1325/589)