unsplash

Oleh Don Zakiyamani

Karena kita makhluk berpikir maka sejatinya kita akan berbeda dengan hewan. Melalui berpikir manusia diharapkan dapat memilah dan memilih, mana baik dan buruk, Mana prioritas dan mana sekunder. Manusia berpikir pastinya tidak semata memperturut nafsunya semata. Hal inilah yang setidaknya membedakan kita dan hewan, membedakan bukan hanya secara fisik saja.

“Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mendengar dan memahami kebenaran) yaitu orang-orang yang tidak berakal.”[1]

Imam Ja’far As-Shodiq ketika ditanya Mana lebih mulia antara manusia Dan malaikat mengatakan; “Allah memberikan akal tanpa syahwat kepada malaikat. Dan memberi syahwat tanpa akal kepada binatang. Dan dia memberi akal dan syahwat kepada manusia. Maka, siapa yang akalnya mengalahkan syahwatnya maka dia lebih mulia dari malaikat. Dan siapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya maka dia lebih sesat dari binatang.”

Dalam kehidupan sehari-sehari, apalagi ditahun politik, gambaran manusia tuli akan kebenaran dan bisu terhadap kejahatan akan mudah kita dapati. Secara lisan maupun tulisan, terkadang manusia tidak lagi berani menyampaikan kebenaran, alasannya karena takut dunianya yang berupa jabatan, harta, uang, akan terganggu bila mengatakan kebenaran. Akibatnya, kebenaran dan orang-orang yang menyampaikan kebenaran semakin sulit kita dapati.

Bahkan para cendekiawan yang harusnya mencerahkan, harusnya menjadi sumber cahaya, belakangan lebih memilih menjadi pemuja kekuasaan. Ilmu dan pengaruhnya digunakan untuk melindungi penguasa, retorikanya digunakan untuk menghipnotis. Begitu sulit kita temukan kebenaran ketika para penyampai kebenaran menjadi budak penguasa. Karenanya, kita yang faqir ilmu, miskin gelar akademik, sebaiknya lebih sering menggunakan akal dan daya pikir.

Kita harus berani berpikir secara merdeka, walaupun berhadapan dengan penguasa, meskipun raga diancam penjara, namun kebenaran harus kita pegang dan sampaikan. Bila menemukan pemimpin yang senang berjanji, namun tidak ditepati, kita harus melawannya secara konstitusional. Dalam aturan bernegara ada mekanismenya, pilkada, pileg, dan pilpres merupakan jalan kita melawan para pengumbar janji yang tidak merealisasikannya, kecuali ia telah hilang akal (tidak waras).

Maka kita pantas prihatin, ketika masih ada bahkan banyak yang membela pemimpin yang tak tepati janjinya. Apalagi membela dengan didasari bigositas, dan sangat disayangkan para akademisi dengan gelar mewah ikut dalam pembelaan tersebut. Anehnya lagi, para pengkritik dianggap musuh, sejatinya para kritikus merupakan partner berdialektika. Inilah mengapa era post-truth disebut sebagai era kekalahan intelektualitas oleh elektabilitas, era pemberantasan bahkan penon-aktifan akal sehat.

Ketika negeri lain berdialog terkait solusi terbaik bagi peradaban negerinya, kita masih seputar pamer ibadah. Bangga menjadi imam shalat namun janji kampanye tak ditepati, janji mengindonesiakan indosat misalnya. Janji memproduksi mobnas, janji tidak impor beras, garam, dan puluhan janji lainnya. Mengapa bangga dengan janji tanpa realisasi, sudah begitu rendahkah selera intelektualitas dan moralitas kita sehingga pengumbar janji dielukan.

Saatnya kita kembali menjadi kusir bagi penguasa bukan malah sebaliknya. Kita yang akan menentukan kemana arah sepasang ‘kuda’ berjalan.


[1] (Al-Anfal 22)