Sumber foto: unsplash

Oleh Don Zakiyamani

Setiap kali melihat profil (stalking) akun IG perempuan berparas cantik, selalu saja ada pesan; “endorse silahkan DM”. Akun tersebut ternyata memiliki follower ratusan ribu bahkan jutaan. Sebagai anak kampung yang lugu dan kurang gaul, awalnya saya kesulitan memahami maksud pesan tersebut. Maklum, selalu saya dapati pesan tersebut hanya ada pada akun dengan pose wajah jelita. Itu artinya mustahil saya menuliskan pesan tersebut di akun instagram saya, termasuk anda yang kurang populer atau (maaf) tidak jelita versi mata manusia.

Setiap manusia pastilah dianugerahi rasa ingin tahu, makanya jangan kita mengejek teman kita yang kepo. Ball (2012) menyatakan bahwa rasa ingin tahu dalam ilmu pengetahuan merupakan suatu keharusan untuk memahami sesuatu [1]. Sementara Renner (2006) menyatakan bahwa rasa ingin tahu adalah keinginan akan informasi dan pengetahuan baru [2]. Rasa ini pula yang kemudian mengajak Ibrahim AS. mengembara hingga menemukan Tuhan, Allah Azza Wa Jalla.

Pertemuan penulis dan makna kata itu tidak begitu intim, namun tidak pula saling benci. Secara sederhana penulis memaknai endorsement sebagai promosi sesuatu, baik barang atau jasa, bisa pula event tertentu. Tujuannya juga sederhana, agar kita terpengaruh sehingga sebuah produk yang dipromosikan bisa dibeli. Indonesia juga konsumen yang membeli salah satu produk Asing bernama demokrasi liberal.

Pendiri bangsa ini mengenalkan kita dengan demokrasi pancasila, sayangnya telah dan sedang ditinggalkan. Pendiri bangsa ini punya kajian empiris bahwa untuk memilih pemimpin hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memenuhi kualifikasi intelektualitas, serta berintegritas. Kini, kedudukan ulama, ilmuwan, cendekiawan, akademisi, peneliti, disamakan dengan mereka yang tidak waras.

Padahal, negara yang kita adopsi mekanisme berdemokrasinya tidak melakukan kebodohan tersebut. Mereka malah meningkatkan kualitas pemilih, karena kualitas pemilih dengan sendirinya akan menentukan kualitas pilihan. Harusnya pemilih diseleksi lebih ketat bukan malah sebaliknya. Wajar bila di sosial media kita sering disuguhi berita hoax dan framing serta dengan mudah dikonsumsi. Mengapa yang begitu laris manis, dan memunculkan kelompok bigot yang urat lehernya mengeras?

Ciri era post-truth memang begitu, kebenaran bisa dikalahkan hoax dan framing. Intelektualitas tidak penting, terpenting ialah elektabilitas, mengekor kedunguan menjauhi pencerahan. Demokrasi liberal diendorse sebagai mekanisme terbaik dan dipastikan akan menghasilkan penguasa terbaik pula. Peran pengendorse dan distributor kedunguan telah mempengaruhi kualitas intelektualitas pengurus negeri.

Secara sederhana, paling nikmat memimpin ketika yang dipimpin fanatik dan dungu. Kritik penguasa dianggap sentimen, padahal kritikus merupakan partner sejati penguasa. Melalui pengeritiklah absolut power dan absolut truth tidak terjadi. Padahal melalui kritiklah sebuah barang semakin hari semakin ditingkatkan kualitasnya. Allah Azza Wa Jalla telah mengedukasi kita bagaimana ketika Malaikat kritik diciptakannya manusia. Yang Maha segalanya dengan absolut power yang dimiliki, faktanya tidak menjebloskan Malaikat ke penjara.

Seperti halnya barang yang diendorse, demokrasi liberal sudah seperti sebuah merk handphone, karena tak khawatir akan masa depan sehingga menganggap remeh OS android. Cerita selanjutnya kita semua tahu bagaimana nasib merk handphone yang dahulunya terkenal tersebut. Para pengendorse capres pun sebaiknya jangan promosi tampilan luar handphone saja, OS capres itu lebih penting. Symbian jangan dipaksakan menggunakan aplikasi Android apalagi mau disejajarkan.

Merakyat itu kebijakan bukan tampilan, kebijakan pro konglomerat tampilan merakyat adalah penipuan sadis. Mirip symbian bercasing Android, ujung cerita tetap tidak dapat menggunakan aplikasi terbaru dari Android. Jangan promosi barang yang tidak sesuai dengan kapasitasnya, kasihan konsumen. Demokrasi liberal memang berjasa atas terpilihnya pemimpin yang tak berkualitas. Apalagi sejak yang tidak waras dilibatkan sebagai pengambil keputusan.


[1] Ball, P. (2012). Curiosity: How Science Became Interestedin Everything. Chicago: The University of Chicago Press.

[2] Renner, B. (2006). Curiosity About People: The Development of a Social Curiosity Measure in Adults. Journal of Personality Assesment, 83(3), 305-316.