Foto: @naprOtiv

Malam itu suasana sedikit dingin, kopi tanpa es menjadi dingin pula. Sembari menanti presiden baru perbincangan sampai kekampus, tempat dibentuknya manusia dewasa menjadi aktor intelektual. Aktor yang berperan besar atas maju-mundurnya sebuah bangsa. Namun kabarnya tempat itu kini sudah menjadi kandang politisi. Para pengajar yang harusnya mengisi otak manusia dengan ilmu, kini sibuk berebut kuasa.

Tidak ada larangan mereka berpolitik namun jangan pula melupakan tugas utama. Jangan pula mereka membungkam suara anak didik mereka, dengan cara-cara yang jauh dari kata akademik. Mereka seperti gerombolan bergelar, saling terkam dan memangsa termasuk anak didik mereka dibunuh intelektualitasnya. Kampus mirip sekolah, bedanya bukan baju yang diseragamkan namun pola pikir mahasiswa. Mereka menciptakan ketakutan-ketakutan, mahasiswa hilang daya kritis dan analisis.

Pada tahun 1998, Guinness Book of World Records menetapkan Universitas Al-Qarawiyyin sebagai kampus/ perguruan tinggi tertua dan pertama di dunia yang memberikan gelar akademis[1]. Kampus yang terletak di kota Fez-Maroko tersebut, didirikan oleh Fatimah al-fihri (859 M). Barulah kemudian muncul University of Bologna di Italia pada abad ke-11 M, University of Paris di Prancis dan Oxford University di Inggris pada abad ke-12 M.

Catatan sejarah ini harusnya menjadi motivasi bagi negara-negara mayoritas penduduk beragama Islam. Tradisi ilmiah yang kemudian melahirkan sebuah institusi ilmiah dan faktanya dimulai umat Islam. Harusnya, kampus-kampus di negara Islam seperti Indonesia kini sudah bisa berbenah. Kampus jangan menjadi sarang penyamun meski gelar akademik kini semakin menjamur di kampus. Negara demokrasi akan semakin dewasa bila kampusnya membuka ruang ilmiah.

Tanpa bermaksud menggurui, sangat disayangkan bila para master dan doktor dikampus menjadi ‘badut’ politik. Jabatan struktural ditetapkan berdasarkan deal politik bukan atas dasar prestasi. Bahkan Prof. Ganjar Kurnia pernah mengatakan bahwa kampus bukan hanya tempat pengembangan ilmu akan tetapi merupakan benteng moral[2]. Celakanya, kedua hal tersebut kini sulit kita jumpai di kampus-kampus. Itu artinya kampus dalam situasi ‘sakit’ parah, padahal biaya kuliah saat ini semakin wow. Sayangnya, tidak diikuti dengan kualitas baik hard-skill apalagi soft-skill.

Barangkali kampus sudah bisa mengganti dosen dengan robot. Pasalnya dosen dan bahkan guru besar dikampus tidak lagi menjadi teladan, sehingga mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan dari mesin. Tertutupnya pintu dialektika, ruang kritis antara dosen-mahasiswa, antara dosen-atasan dosen menambah dalil bahwa kampus telah gagal menjadi intitusi ilmiah bahkan ahistoris dari filosofis didirikan institusi tersebut. pengajar dikampus yang bicara moral diruang kuliah semakin langka, kalaupun ada, setelah bicara moral diluar ruang malah saling mangsa karena jabatan struktural dan proyek dikampus.

Semakin tinggi gelar akademik kok semakin ganas memangsa sesama. Ini realitas yang sudah dan sedang dilakukan para pendidik intelektual dikampus. Bila mereka yang berilmu begitu rakus pada kekuasaan, bagaimana dengan kami yang awam? Bagaimana dengan caleg paket C? Sebenarnya gejala kampus menjadi sarang penyamun sudah lama terindikasi. Mereka memulainya dengan membatasi ruang pikir dan gerak mahasiswa. Para birokrat kampus sukses menciptakan ketakutan-ketakutan pada mahasiswa, saat itulah mereka menjadi penyamun dikampus.

Tanpa kontrol dari mahasiswa, kebijakan rektorat maupun dekanan disesuaikan dengan keinginan personal. Sebuah kegiatan harus sesuai kebutuhan bos bukan kebutuhan akademik dan ilmiah, bahkan urusan siapa yang pantas menerima dana hibah penelitian, harus yang pro rezim kampus. Bila institusi intelektual sudah sangat politis, tak sehat lagi, konon lagi institusi lain. kita masih ingat kasus korupsi pengadaan barang dan jasa proyek Instalasi Infrastruktur Teknologi Informasi Gedung Perpustakaan sebuah kampus terkenal tahun 2010-2011, pelakunya para petinggi kampus

Dan faktanya, masih banyak kampus yang melakukan praktik-praktik korupsi sejenis. KPK harus rajin ngampus, karena kampus kini menjadi salah satu tempat korupsi yang jarang dipantau. Pelakunya mereka yang bergelar mewah sehingga KPK harus lebih cerdas lagi. Bagaimana kampus begitu pula negerimu, ceritakan kampusmu maka akan akan kuceritakan bagaimana negerimu. Singkirkan penyamun bergelar akademik.


[1]http://www.guinnessworldrecords.com/world-records/oldest-university
[2]http://www.unpad.ac.id/2014/08/rektor-unpad-kampus-adalah-benteng-moral-bukan-sekadar-tempat-ilmu-pengetahuan/