sebuah warkop di Kota Banda Aceh

Oleh Don Zakiyamani

Diatas meja sebuah warkop setidaknya ada dua-tiga jenis minuman. Berbeda manusia berbeda pula selera dan pesanan, ada kopi, sanger, dan ditemani air jernih. Manusia yang datang juga beragam agama, profesi, warna kulit, suku, dan semua bisa tertawa bahagia. Didalam warkop dan diatas mejanya semua menjadi kita, tak peduli pilihan politik yang berbeda, tak peduli gelar akademik, gelar adat, dan perbedaan lainnya.

Warkop mengubah aku, kamu, mereka, menjadi ‘kita’. Satu kata yang selama ini semakin langka diucapkan sebuah bangsa yang berikrar menjadi negara. Sebuah negara yang mengakui kemajemukan namun disaat yang sama terus memainkan politik identitas. Bukankah dengan perbedaan kita dapat menyemarakkan warna sebuah lukisan bernama Indonesia.

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”[1]

Kerap kali kita lupa bahkan sengaja lupa bahwa kita diciptakan dalam keadaan beda. Kita tidak diberi pilihan hendak dilahirkan dari bangsa dan suku apa. Itu sebabnya kebencian atas nama suku dan bangsa sama dengan membenci taqdir Yang Maha Rahim dan Rahman. Superior sebuah suku atau bangsa atas lainnya telah membelah kita menjadi saya dan mereka, dia dan kamu. Kita rela menjadi bangsa dungu demi satu hal yang tak bisa diminta sebelum lahir. Hakekat bernegara sudah lenyap, ayat illahi diabaikan, ego diri mengalahkan keharusan universal.

Mengapa tidak kembali ke khittah kita, sebagai hamba lemah, penuh kekurangan, disitulah ruang kita saling menghargai. Kita bukan kawanan srigala yang siap memangsa kambing, bukan pula kawanan kambing yang takut bila ada bau srigala. Kita ciptaan Allah Yang Maha Rahim dan Rahman, yang berakal dan mengutamakan bijak didalam apapun. Kita boleh berbeda isi dompet namun tidak dilarang bersedeqah, dompet tebal dan tipis sama-sama boleh bersedeqah.

Dalam berbuat baik dan jahat kita memiliki potensi dan peluang yang sama. Tak peduli kesukuan dan bangsa apapun, peluang berbuat baik dan jahat sama-sama diberikan. Itulah mengapa didalam bernegara, berdemokrasi, sudah tiba waktunya kita budayakan berbeda itu warna. Berbeda itu anugerah, berbeda itu nikmat, berbeda itu yang menumbuhkan cinta. Jadilah penonton dan pendukung yang bijak, jangan lempar benda tajam ke lapangan. Nikmati permainan sampai akhir, apapun hasilnya jangan lupa pada orang-orang yang kita cintai dan sayangi.

Para pemain telah berlatih, mereka berkompetisi agar kita memiliki tontonan menarik. Jangan mau diprovokasi para pendukung maupun pemain, kompetisi akan digelar rutin, tak perlu sedu sedan bila jagoanmu kalah. Toh kalah menang sudah ditaqdirkan bahkan sebelum kita dilahirkan. Boleh bersemangat mendukung, tapi ingatlah, kita tak mungkin kenyang hanya dengan menyaksikan orang lain makan. Ketika terjadi kekacauan Ali menyatakan pada rakyatnya, “pada saat Abubakar, Umar, Usman memimpin rakyatnya seperti aku”. Semoga kita dapat menjadi rakyat yang cerdas, penonton yang bijak, saatnya menjadi kita.


[1] (al-Hujuraat: 13)