Foto: unsplash

Oleh Don Zakiyamani

Saya, anda, dia, mereka dan kita semua barangkali pernah mendapat undangan sebuah pesta. Entah itu pesta pernikahan, hari kelahiran, maupun pesta jenis lainnya. Lazimnya ketika undangan datang dan kita berencana hadir, segala persiapan sudah jauh-jauh hari kita siapkan. Mulai busana yang akan digunakan hingga hal-hal tekhnis lainnya. Dan suasana hati menuju ke sebuah pesta pastinya penuh dengan kegirangan, aneh kalau menuju pesta suasana hati dipenuhi rasa curiga, fitnah, maupun hal negatif lainnya.

Suasana hati girang, ceria, penuh kedamaian menuju pesta harus pula kita miliki ketika undangan pesta demokrasi datang. pesta yang dilaksanakan 5 tahun sekali itu hanyalah rutinitas dalam demokrasi. Salah satu bagian dari kehidupan berdemokrasi, bukan tujuan utama berdemokrasi. Itu artinya tak layak bila harus mengorbankan kehidupan berdemokrasi bahkan bernegara demi pesta 5 tahunan.

Percayalah, bahkan dalam diri kita ada monster. Itu artinya ada monster pula disetiap tim pemenangan capres. Siapapun pemenang kita baiknya tetap kritis, tak peduli jagoan kita yang menang. Pemerintah butuh kritik, jangan sampai kebutuhan yang satu ini (kritik) tidak kita subsidi. Tanpa kritik, absolut power akan tumbuh subur. Bila itu yang terjadi, kita menjadi pendosa bagi negeri ini.

Teriakan Francis Fukuyama dalam tesisnya (The End Of History And The Last Man) bahwa sosialisme sebagai ide utopis Karl Marx yang akan meruntuhkan kapitalisme, faktanya kini dapat beradaptasi dengan akumulasi perputaran produksi kaum kapitalis, yang konon akan diambil oleh kaum buruh. Sejak kekalahan Jerman Timur atas Jerman Barat, ideologi hybrid menjadi trend, demikian pula dengan negeri ini.

Kegalauan ini yang kemudian menyuburkan politik identitas. Kesalahan ini harus terbayar dengan munculnya kebencian berbasis identitas. Pesta demokrasi terancam, pesta menjadi ajang amarah demokrasi. Selain biaya mahal yang harus ditanggung, konflik horizontal dipastikan menjadi ancaman serius. Korban terbanyak umat Islam, sebagai mayoritas umat Islam dicurigai namun disaat yang sama diemis suaranya.

Umat Islam dijadikan objek politik, diadu dengan sesama oleh kelompok hybrid. Kadang berwujud sosialis, tak jarang bersikap kapitalis, dan sedikit Islam abangan. Kelompok ini ada diarus utama politik nasional. Kita yang awam sering latah, ikut-ikutan, bahkan mencaci sesama demi ritual 5 tahunan. Demokrasi liberal telah sukses mempolarisasi negara kesatuan. Sehingga mari tertawa ketika ada kelompok menyatakan diri sebagai Pancasilais namun melacur didemokrasi liberal.

Bila kita menyatakan diri sebagai pancasilais, maka pesta demokrasi kedepan bukan pesta kita. Demokrasi liberal bukan milik bangsa Indonesia, kecuali kita setuju negeri ini menganut hybrid ideologi.