Pemilu

0
134
Foto oleh @nate_dumlao/Nathan Dumlao

Oleh Don Zakiyamani

Dan kopi selalu memanggil, dia tak peduli betapa cuaca belakangan ini begitu panas. Bukan karena mentari yang ngambek namun karena otak dan hati manusia terus diisi dengan provokasi. Imbasnya terjadi pemanasan global dihati dan otak manusia Indonesia. Selera humor semakin rendah meski tak rendahan. Kebodohan bisa viral, kecerdasan dilupakan bahkan dinistakan

Presiden membodohi Menteri, Menteri membodohi rektor, rektor membodohi dekan, dekan membodohi dosen, dan dosen membodohi mahasiswa. Kopi tersenyum sembari berucap; “pembodohan terorganisir dan massif terjadi, disebabkan pencerdasan tidak terorganisir, pencerdasan tidak dilakukan oleh mereka yang cerdas”. Kaum cerdas menghindar, kita yang awam jadi mangsa pembodohan.

Setiap kali datang momen politik, kita yang awam diberikan menu membodohi atau dibodohi, membenci atau dibenci, mencaci atau dicaci, menghina atau dihina. Politik bertujuan mensejahterakan rakyat, mencerdaskan kita yang awam, gotong royong membangun negeri. Mereka yang pintar dan cerdas harusnya hadir dalam politik dan membatasi gerakan pembodohan. Dan yang sudah hadir, jangan menjadi kelompok yang membodohi awam.

Imam Syafi’i ketika ditanya mengapa ia masih belajar pada seorang guru yang kitabnya sudah beliau pahami, sudah beliau hafal, jawab beliau; “karena ingin belajar akhlaknya juga bukan sekedar kitabnya”. Ini sejalan dengan perkembangan zaman hari ini, ketika robot dan mesin mampu secara kognitif mengalahkan manusia, kecerdasan spiritual menjadi penting. Faktanya mereka yang hebat kognitifnya semakin faqir akhlak sejak bangsa ini menganut demokrasi liberal.

Dampaknya, mekanisme memilih kepala negara, wakil rakyat, senator, hingga kepala daerah dianggap tujuan. Kesalahan orientasi ini telah menggagalkan kita yang awam memahami subtansi demokrasi. Kita mengira inilah kehidupan demokrasi,kita menyangka mekanisme sebagai tujuan padahal bukan.

Paling menyedihkan lagi ketika kita rela menjual akhlak demi ritual demokrasi liberal. Kita semakin jauh dari kata taqwa, padahal kemuliaan dihadapan Allah hanya dianugerahkan kepada yang bertaqwa bukan yang elektabilitasnya tertinggi, bukan pula pada jabatan dunia, harta, serta gelar adat istiadat. Jelas bahwa musuh kita yang nyata adalah Syaitan dan kita dilarang mengikuti langkah-langkahnya [1].

Apalagi yang kita pilih bukanlah ulil amri sebagaimana yang kita pahami, kita hanya memilih pelaksana administrasi negara dan daerah. Meski memang pilihan kita akan menentukan arah kebijakan negara maupun daerah akan tetapi didalam demokrasi kita memiliki ruang menghentikan kepala negara atau daerah yang melanggar konsensus didalam pancasila dan UUD 45.

Karenanya,jangan sampai pemilu membuat kita kesetanan sehingga kita tidak dicintai Yang Maha Rahim dan Rahman. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang menepati dan yang bertaqwa [2] bukan orang-orang yang ingkar janji dan mengikuti langkah syaitan. Yuk ngopi tanpa rasa pilpres


[1] (Q.S. 2 : 208/ 6 : 142/ 36 : 60/ 43 : 62)

[2] (Q.S. 3 : 76)