ilustrasi: HMI Komisariat FKIP Unsyiah galang dana

Kapitalisme bisa dianggap berkah bagi pemilik modal, kekalahan sosialisme mengukuhkan kedudukannya ditengah-tengah kehidupan kita. Kini, sosialisme maupun Islam harus patuh pada kapitalisme. Bila tidak, krisis keuangan menjadi ancaman nyata. Hibridasi ideologi tak bisa dihindari, negeri mayoritas beragama Islam dan sosialis harus mengikuti arus kapitalisme. Kita tergoda untuk menumpuk harta demi menegakkan wajah dihadapan manusia lainnya. Eksistensi kita diakui berkaitan dengan harta yang kita miliki. Tanpa harta kita hanya nama, kita hanya pelengkap agar kehidupan ini berjalan sesuai hukum fisika maupun ekonomi.

Akibatnya, sesama kita bahkan sedarah, saling memangsa, berebut harta warisan, kedengkian, iri hati, terus tumbuh karena harta. Perlombaan menumpuk harta dan hedonisme menjadi wajar. Kepekaan sosial hanya teks buku bacaan, bahkan negara yang berkewajiban memelihara fakir miskin dan anak terlantar, ikutan lalai.

Kegagalan mengalahkan kapitalisme bukan hanya diderita sosialisme, negara-negara Islam mengalami hal yang sama. Dan kekalahan itu telah menciptakan sebuah masyarakat individualistik. Peduli amat masih banyak yang lapar, hal terpenting adalah diri dan keluarga bisa tidur nyenyak, kenyang, harta berlimpah. Bukan dilarang kaya namun sebagian kekayaan itu sesungguhnya ada hak orang lain, demikian Islam mengatur keseimbangan hidup.

Sayangnya, konsep itu mulai ditinggalkan. Bahkan kita rela memperkaya diri sembari menyusahkan orang lain. Misalnya aksi tebang pohon tanpa mau menanam, akibatnya beragam bencana datang. Ketika bencana datang rantai kapitalisme berhenti sejenak. Berlanjut setelah bencana reda, ketika keceriaan datang kembali. Faktanya, kapitalisme hanya dapat dikalahkan dengan bencana. Apakah kita harus membuat bencana untuk hentikan kapitalisme?

Menanti atau mendatangkan bencana untuk mengalahkan kapitalisme adalah bentuk putus asa. Ada cara cerdas lain yang bisa kita lakukan, terutama dengan agenda jangka panjang. Pendidikan memiliki ruang disitu, peran guru disekolah dan pesantren sangat strategis. Dan bicara soal pendidikan kita, tak akan selesai hingga segelas kopi harus ditambah lagi. Ya sudah mari ngopi dulu