Foto unsplash

Saat ngopi sore seorang teman bertanya; “mengapa pertanyaan debat diberikan kepada capres seminggu sebelum acara?” Sebenarnya saya tidak punya jawaban logis. Selain itu, selogis apapun jawaban tidak akan mempengaruhi keputusan yang sudah ditetapkan KPU. Namun hidup memang soal menjawab pertanyaan, misalnya dulu ditanya kapan selesai kuliah, setelah lulus kuliah beberapa pertanyaan baru muncul lagi.

Hidup memang soal menjawab soalan, kalau bisa jawab mesti tak logis tetap saja kita sudah cakap. Intinya argumentasi yang kita paparkan dapat diterima, demikian pula dengan debat capres yang selalu jadi agenda dalam pilpres. Dan agenda rutin ini belakangan jadi perbincangan bahkan sebelum debat dimulai. Faktanya, perdebatan sudah lama dimulai oleh masing-masing pendukung capres. Tujuan debat kabarnya agar pemilih mengenal calon yang akan berkompetisi. Sayangnya, untuk wakil rakyat tidak dilakukan karena terlalu banyak caleg.

Debat capres yang dilakukan selama ini ternyata tidak begitu berpengaruh. Selain terlalu formal, matan debat sudah bisa ditebak, mulai soal yang diajukan hingga jawaban yang diberikan. Jarang sekali ada case study yang dijadikan pertanyaan, sehingga kebosanan yang ada. Dan sekarang dengan jawaban yang sudah disiapkan maka sebaiknya para kandidat tak perlu hadir. Sudah pasti kandidat hanya membaca teks yang ditulis tim masing-masing. Menurut saya kirimkan saja jawaban berupa video rekaman.

Dengan demikian biaya pelaksanaan debat bisa diefisiensikan. Uang rakyat tidak lagi keluar untuk hal yang membosankan. Bukan bermaksud mereduksi makna debat namun dari skenario yang dirancang tidak sebanding dengan biaya yang digelontorkan. Menyewa tempat seperti hotel dan stasiun TV untuk hal yang tak penting adalah pemborosan.

Dengan demikian, kita tak perlu lagi berdebat, apakah debat capres ideal atau tidak. Sekarang yang perlu kita debatkan ialah perlu tidaknya debat, kalau tidak maka kita ikut menyelamatkan uang rakyat. Sembari ngopi, mari tolak debat baca teks ala lomba pidato.