Sumber foto unsplash

Setiap jam bahkan menit hingga detik kita selalu disuguhi informasi super cepat. Kemajuan tekhnologi memang memudahkan dan memanjakan kita. Kita patut bersyukur dengan hal itu, media daring tumbuh dan berkembang serta terus memanjakan kita semua.

Melalui mereka kita dapat mengetahui sebuah peristiwa dibelahan dunia manapun. Selain yang aktual, kita disuguhi pula beragam informasi, semisal sains, kesehatan, tips, motivasi, dan yang berguna lainnya. Terima kasih media, karena kalian maka kami yang awam bisa sejajar dengan para bos besar dan elit soal mendapatkan informasi.

Kita juga tahu bahwa media massa memiliki andil besar dalam perjuangan sebuah bangsa, termasuk bangsa Indonesia. Bahkan saya yakin, jika media online dan kemajuan tekhnologi sudah semaju ini pada saat perang Aceh-Jakarta, Aceh bakal jadi negara merdeka terpisah dari Indonesia. Dengan kata-katanya, media dapat menggerakan hati manusia, mendorong manusia berbuat sesuatu, bahkan mengubah mindset manusia.

Begitu strategisnya peran media, sehingga kekuasaan yang dimiliki media tidak bisa dianggap remeh. Media mempunyai peran signifikan dalam peradaban masa lalu, kini dan yang akan datang. Soal informasi, media memang memiliki kekuasaan yang nyaris absolut. Bila tidak hadir sosial media sejenis Facebook, Twitter, Instagram, bisa dikatakan media menjadi pemain tunggal.

Seiring menjamurnya media; baik online, maupun elektronik, ternyata berdampak pada kualitas informasi yang disajikan. Sebabnya, kebutuhan ekonomi mengalahkan sisi kebenaran, padahal pembaca butuh sajian yang benar dan jujur.

Akibatnya pembaca semakin sulit menemukan berita yang benar. Kalaupun ada berita yang benar dianggap salah, dan sebaliknya demikian pula. Sulitnya memilah mana benar dan salah, sementara pembaca tidak banyak waktu untuk mencari kebenaran.

Politisi memanfaatkan situasi ini dengan membayar media besar. Pembaca setiap hari berkelahi di sosial media, sebabnya berita bohong yang dirasionalkan sebagai berita benar. Semakin tinggi rating sebuah media, semakin besar bayaran yang didapat dari politisi.

Sejak saat itu, rakyat terpolarisasi. Rakyat terbelah karena hasutan politisi disebarluaskan. Sementara kebenaran yang disampaikan, tidak disebarluaskan karena dianggap hasutan. Pembolak-balikan fakta akhirnya menjadi rezeki media, meski tidak semua media begitu. Kalaupun media yang masih idealis, masih memegang prinsip dan nilai Jurnalistik, angkanya kecil dan pembacanya juga sedikit.

Kondisi itu diperparah dengan demokrasi liberal, dan dirampoknya kemampuan sebagian besar orang untuk berpikir secara konsentratif, reflektif, dan kontemplatif. Perubahan memang selalu meminta korban, seperti menjamurnya media online yang mengakibatkan media cetak perlahan lenyap. Demikian halnya dengan semakin percayanya publik pada media, akhirnya media dimanipulasi politisi.

Chomsky dan Herman[1] merumuskan persoalan ini dalam 5 sebab utama; uang dan kepemilikan, iklan, sumber berita, tekanan penguasa, propaganda. Kelima hal ini yang kemudian menyebabkan kita sering mengkonsumsi hal-hal yang dangkal bahkan bohong dari media. Karenanya berharap mendapat informasi objektif pada media online, cetak, maupun elektronik, secara penuh adalah kesalahan.

Solusinya kita harus memiliki empat pola pikir sekaligus; analitis, kritis, tekhnis, dan reflektif. Keempatnya idealnya berbarengan ada pada kita terutama pada para pemimpin. Melalui filter ini, kita tidak dengan mudah diombang-ambingkan oleh isu-isu politik, ekonomi, maupun konflik identitas.

Kita akan kritis terhadap sebuah informasi kemudian menganalisa, kita akan belajar dari peristiwa masa lalu dan bagaimana peristiwa tersebut akhirnya diselesaikan.

Melalui daya kritis kita akan selektif atas informasi yang ada, ruang analisis kita buka agar persoalan bisa kita minimalisir. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bahagia, ini zaman dengan ungkapan; harta, tahta, kuota. …Selamat ngopi dan jangan lupa bersyukur serta mari ciptakan kebahagiaan.


[1] Herman, Edward S. and Noam Chomsky (1988).Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media. New York: Pantheon