“The truth is that what you are today is the result of your habits. What you are doing today will prepare you for tomorrow. Good habits will prepare you for a better tomorrow and bad habits will prepare you for a bad tomorrow.” [Vartika Kashyap]

Malam itu ngopi lagi, kali ini bersama teman-teman yang baru lulus tes tahap akhir CPNS. Selain bahas soal tekhnis, ada terselip rencana masa depan, sebuah cita-cita luhur pun lahir. Cita-cita ingin menjadikan birokrasi lebih baik, tentu bukan hal mudah walaupun bukan mustahil. Manusia diberi kewenangan melakukan perubahan dan optimis harus menjadi syarat utama. Tidak boleh pesimis dengan realitas yang ada.

Elang diusia 40 tahun mengalami kelemahan paruh dan kuku, beberapa elang menyerah dan mati. Beberapa lain melakukan perubahan, mengupgrade paruh dan kuku kakinya. Elang tersebut setelah 150 hari kembali seperti dilahirkan. Perubahan tak terelakkan, dan mengupgrade kemampuan harus terus dilakukan atau punah dalam persaingan.

Bila elang mau melakukan perubahan dengan mengupgrade diri, kemampuan dan kapasitas diri, mengapa kita enggan. Sebagai makhluk ciptaan illahi yang terbaik, memiliki keunggulan dari makhluk apapun, manusia wajib terus mengupgrade dirinya. Era kompetisi meminta itu, zaman ini membutuhkan orang-orang yang siap dengan segala tantangannya.

Salah satu yang harus kita upgrade dari diri kita adalah pola pikir. Zaman ini tidak lagi cocok dengan pola pikir bigot terhadap tokoh politik. Pasalnya, kita sudah cukup mapan mengetahui segala hal terkait teori politik maupun prilaku politisi. Kita sudah sering ditipu, sudah sering dikejutkan dengan tingkah pola politisi. Soal pola pikir tidak bergantung dengan gelar akademik, kita yang awam sekalipun bisa mengubahnya.

Melalui perubahan pola pikir kita akan mampu mengikuti arus persaingan global. Aneh bila kita masih mendebatkan hal yang tak produktif. Kita terus mengkonsumsi hal-hal yang dipropagandakan negeri lain, sementara mereka terus maju didepan kita. Kita terus menerus menjadi ‘santapan’ dan lucunya kita bangga.

Melalui perubahan dan peningkatan kapasitas diri, dengan sendirinya akan mempengaruhi marwah bangsa dimata internasional. Bangsa ini terlalu besar untuk dikerdilkan, terlalu kaya untuk dimiskinkan negeri-negeri yang pohon jengkolpun tak bisa tumbuh. Tapi, kenyataannya hal itu sudah dan sedang berlangsung. Kita turut andil dalam prosesnya, kita menjadi bagian dan membantu mereka menguasai setiap senti negeri ini.

Pendidikan kita melahirkan orang-orang hebat, sayangnya diantara mereka menjadi pelaku utama pembodohan. Meskipun menurut logika awam saya, pembodohan sukses dilakukan karena ada peluang dari yang dibodohi. Pembodohan dilakukan dengan sukses karena kebodohan sangat toleran dengan pembodohan. Intoleransi atas pembodohan harus kita giatkan.

Gerakan pencerdasan melawan pembodohan harusnya dimulai dari kampus dan institusi pendidikan. Tapi sejak kampus-kampus strukturalnya diisi para politisi, pembodohan juga terjadi disana. Padahal, negara-negara lain menjadi kampus sebagai cabang ekonomi selain pencerdasan. Australia misalnya, mendapatkan triliunan dari pelajar internasional. Mereka sukses mendulang pendapatan negara dari kampus sekaligus pencerdasan.

Professor di Indonesia malah rebutan kursi, dan institusi tersebut tidak lebih baik setelah cakar mencakar terjadi. Kita yang awam disuguhi informasi yang tak bermutu, dan pelakunya dari mereka yang diberi wewenang menyiapkan generasi cerdas di zaman artificial intelligence. Lalu sikap kita? Saatnya mengupgrade diri, filterisasi informasi melalui analisis sederhana, mengaktifkan logika, sedikit riset, terus kritis. Biarkan nalar kita berdangdut, nge-Jazz, Pop, Rock, dan ngopi. Nalar kita harus diajak ngopi juga, biar nalar tidak ngantuk, namun ia tetap terjaga dan menjaga kita.

“We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit.”[Will Durant]