Model Muammar/Lokasi Gerobak Arabica Pango

Oleh Don Zakiyamani

Apa yang anda rasakan ketika jatuh cinta? Semua orang biasanya akan menjawab bahagia, gembira, penuh semangat. Begitulah sekelumit pengaruh cinta terhadap manusia. Jacques Lacan, seorang pemikir asal Prancis mengatakan bahwa manusia adalah makhluk berlubang.

Maksud berlubang bukan secara fisik namun secara jiwa. Kekosongan itu harus diisi, beragam hal atau sesuatu, misalnya barang mewah, teman, keluarga, cinta, dan sebagainya. Dalam situasi negara yang begini, lubang itu diisi dengan harta, tahta, dan amarah.

Idealnya, lubang itu diisi dengan cinta sehingga kita benar-benar merasa gembira, riang dan semangat menghadapi pemilu. Reza A.A Wattimena mengatakan ada 6 komponen penting dalam cinta [1].

Komponen pertama hasrat, menurutnya hasrat adalah keinginan yang membakar hati, dan mendorong manusia untuk bertindak. Melalui hasrat manusia mencintai dan melalui cinta kita rela berkorban. Negara harus punya hasrat sehingga segala kebijakannya diperuntukkan untuk rakyatnya.

Seorang pemimpin harus memiliki hasrat untuk mencintai rakyatnya. Tanpa itu rakyat tak akan berhasrat untuk mencintai pemimpinnya. Tanpa hasrat mencintai, pemimpin disegala dimensi akan menjadi pengkhianat bagi rakyatnya. Korupsi merupakan contoh elit maupun pemimpin yang tak mencintai rakyat.

Komponen kedua menurut Dr. Reza, adalah kehadiran. Cinta menghendaki kehadiran, baik itu fisik, hati, dan pikiran. Sama halnya ketika negara mencintai rakyat, negara harus hadir membela kepentingan rakyatnya. Kita yang mencintai negeri ini, harus pula hadir ketika negara membutuhkan kita.

Komponen ke-tiga yang dihendaki adalah komitmen. Melalui komitmen kita mengikat janji. Membangun negara harus dengan komitmen. Secara sederhana komitmen itu setia pada janji. Kita telah berjanji membentuk sebuah negara yang melindungi hak-hak warga negaranya. Kepala negara, kepala daerah, wakil rakyat, harus komitmen.

Jadi, bila ada kepala negara yang ingkar janji, ia tidak mencintai rakyatnya. Begitu pula bila ada politisi yang korup, ia pun tidak mencintai rakyatnya, dan juga negaranya.

Komponen selanjutnya akal budi. Mencintai juga harus menggunakan akal, jangan gila-gilaan. Ketika politik identitas begitu kuat, kita terjebak dalam fanatisme. Kecintaan berlebihan tanpa akal bisa destruktif padahal membangun negara harus dengan akal. Cinta buta tanpa akal akan menjerumuskan kita. Betapa banyak orang yang siap hidup senang namun tidak ketika susah.

Misalnya, ketika anda mencintai seseorang tanpa akal. Semua keinginan kita turuti, tapi apa yang terjadi kemudian ketika kita tak mampu menuruti keinginannya? Bisa muncul benci, begitulah mengapa kita sebaiknya mencintai dengan akal tak boleh perasaan saja.

Komponen ke-5 yang tak kalah penting, berkembang. Pasangan kita harus lebih setelah bersama kita. Pemimpin yang mencintai negerinya harus membuat negerinya lebih baik, berkembang. Berkembang itu bukan hanya secara fisik, namun secara pola pikir.

Komponen terakhir paradoks, meski terasa aneh namun cinta idealnya begitu. Oposisi dalam sebuah negara demokrasi wajib adanya. Pendukung penguasa dan oposisi merupakan dua kelompok yang saling mencintai, sama-sama mencintai negerinya. Melarang oposisi hidup sama seperti mengekang orang yang kita cintai untuk bicara. Semakin kita mengekang pasangan, semakin ia akan pergi. Ibarat menggenggam pasir.

Negeri ini butuh cinta, butuh orang-orang yang mencintai negeri dan penghuninya. Tantangan cinta memang semakin besar di era sosial media. Individualisme dan egoisme menjadi tantangan pertama. Hubungan dengan rakyat hanya sebatas kepentingan sesaat, kekuasaan.

Tantangan lainnya transaksional, kita berteman dan mencintai berdasarkan untung-rugi saja. Bukan hanya dalam politik, transaksional juga terjadi dalam kehidupan sesama. Konon lagi dalam kehidupan bernegara. Budaya berkorban dan tulus dalam hubungan semakin tipis. Nah, sekarang mari kita ngopi dulu, semoga kita menjadi pencinta sejati, menyambut pesta demokrasi dengan riang gembira serta bahagia.


[1] Reza A.A Wattimena, Filsafat Cinta (2012)