Model Nazar/Lokasi Solong Ulka

Kopi sore memang selalu asyik dan mengasyikan. Selain pelepas penat, kopi sore merupakan teman diskusi ciamik. Kopi sore menyajikan keluhan, meski tak serius, keluhan dapat menyajikan pertanyaan-pertanyaan menarik. Bahkan dapat menjadi inspirasi.

Pertanyaan tersebut tak harus dijawab dengan puas, sebabnya, kepuasan hanya akan menutup pintu dialektika. Kepuasaan adalah awal mula kedunguan, pintu masuk fanatisme seperti followers capres dan cawapres yang mendukung tanpa ilmu. Kopi sore tak ingin itu, kopi sore enggan dianggap mazhab dungu.

Kopi sore mengundang tanya, mengapa kita menggunakan politik identitas namun mengorbankan identitas kita. Pertanyaan kedua; sebandingkah pengorbanan identitas demi identitas? Menyoal identitas memang menarik, sudah puluhan tahun Indonesia merdeka namun kartu identitas masih berceceran, bahkan dikorup.

Belakangan politik identitas memang sedang ngetrend. Bukan tidak boleh namun jangan sampai politik identitas malah mengotori identitas yang kita bela tersebut. Misalnya kesukuan, kita boleh menonjolkan kesukuan kita namun hendaknya dengan prestasi bukan mencaci suku yang lain.

Karena dengan mencaci suku lain sebenarnya kita telah mencaci suku sendiri. Sangat jelas Allah mengatakan kita diciptakan dengan segala kemajemukan, dan perintahNya untuk saling kenal bukan saling caci. Perbedaan yang menyatukan kita bukan persamaan yang menceraikan kita.

Nah, pertanyaan kopi sore belum terjawab. Pertanyaan mengapa kita menggunakan politik identitas. Manusia memang ingin tampil, ia membutuhkan pengakuan eksitensinya. Beragam cara dilakukan, salah satunya dengan mengedepankan identitas; agama, suku, almamater, dan lain-lain.

Melalui identitas ini manusia menemukan persamaan sekaligus perbedaan. Sulit mengerem politik identitas, ego komunal dan personal yang bersatu padu guna memusuhi personal dan komunal yang beda. Bahkan politik identitas bukan hanya dipraktikan mayoritas, yang minoritas malah lebih sering menggunakannya. Dengan dalih sebagai korban politik mayoritas.

Kesamaan nasib itu dijadikan propaganda untuk memanasi mayoritas. Sulitnya menjaga seluruh moral kaum mayoritas, terkadang mayoritas dianggap macam-macam karena ulah segelintir. Misalnya; umat beragama diganggu oleh oknum beragama lain. Imbasnya, umat beragama dari pengganggu tadi dianggap sama.

Dalam konteks Indonesia misalnya, umat Islam sebagai mayoritas dengan rendah hati mau menerima aspirasi agama lain. Hal yang berkaitan langsung dengan Islam dihilangkan, jadilah republik Indonesia berazas Pancasila. Umat Islam juga bergabung di partai-partai yang nasionalis. Bahkan memilih partai non-Islam padahal ada partai Islam.

Fakta historis ini membuktikan bahwa umat Islam sangat moderat. Sangat toleransinya umat Islam dibelakangan hari disalah gunakan. Ada yang terus memprovokasi, ada yang tidak senang umat Islam di Indonesia bersatu dengan yang beda agama. Pelakunya bukan hanya yang beda agama akan tetapi yang se-agama. Mereka iri dengan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Potensi besar ini diganggu dengan beragam wacana Islam radikal, teroris, yang intinya umat Islam yang mayoritas tidak memenuhi standar toleransi yang diinginkan barat. Padahal umat Islam di Indonesia jika memang memaksakan kehendak sudah dari tahun 1945 menerapkan syariat Islam.

sumber foto unsplash/ lokasi mesjid pogung dalangan,Sleman

Bila kemudian ada kelompok Islam yang mengangkat senjata, Bom, merusak,termasuk prilaku korupsi,maka jangan salahkan umat Islam. Mereka yang begitu juga musuh bagi umat Islam yang didoktrin menjadi umat yang damai, umat yang bermanfaat bagi orang lain, hewan dan tumbuhan.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni [1]

Bagi umat Islam, berbuat baik pada orang lain berarti berbuat baik pada diri sendiri [2], sehingga sikap toleransi sejak negara ini didirikan merupakan doktrin Islam yang diimplementasikan dengan baik oleh para ulama. Identitas inilah yang harus kembali dimunculkan didalam perpolitikan kita.

Teori politik klasik Aristoteles mengatakan bahwa politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Itu artinya teori politik ini sangat sejalan dengan ajaran Islam. Wajar bila umat Islam kemudian melakukan aktifitas politik demi kemaslahatan bersama, tak peduli agama dan suku apapun, umat Islam akan siap melakukan kebaikan.

Pandangan-pandangan yang menyudutkan umat Islam dalam politik, sampai mesjid diintai, bisa dikatakan provokator yang akan mengganggu pancasila dan kerukunan umat beragama di Indonesia. Mereka mengungkap sendiri identitasnya sebagai pembenci umat Islam.

Segala puji bagi Allah, umat Islam tidak terprovokasi. Umat Islam memilih melawan melalui dakwah, melalui jalur konstitusional, jalur damai, dan jalur-jalur lain yang dihalalkan syariat Islam. Semakin dicurigai, umat Islam semakin solid, semakin kuat. Tuduhan-tuduhan politik identitas hanya dialamatkan kepada umat Islam.

Berkumpulnya umat Islam menyampaikan aspirasi dianggap sebagai politik identitas, radikal, dan ejekan-ejekan lainnya. Padahal mereka memilih parpol yang berbeda dan tidak semua memilih partai Islam sebagaimana umat Islam dimasa lalu yang memilih Masyumi.

Sementara itu diujung sana yang mensyaratkan capres harus suku tertentu tidak pernah dianggap politik identitas. Padahal, suku apapun punya potensi dungu dan cerdas yang sama. Kalau memang kita tidak sepakat politik identitas maka haruslah segala aspek, jangan hanya umat Islam yang terus dijadikan korban, tapi disisi lain dibutuhkan suaranya dalam pileg dan capres.

Coba tuangkan kopi didalam gelas-gelas kosong itu, jangan sebutkan darimana asal kopi itu, jangan pula sebutkan jenisnya. Biarkan konsumen memilih kopi terbaik menurut seleranya setelah ia mencoba. yuk ngopi


[1] Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289

[2] (QS. Al-Isra:7)