Sumber foto: unsplash/Nathan Rogers

Setiap sabtu malam dan minggu malam, masyarakat Indonesia pada umumnya kaum lelaki disajikan tontonan liga dari negeri Eropa. Para pecinta sepakbola tak bisa melewatkan tontonan tersebut, apalagi bila tim kesayangan yang bertanding. Sepakbola memang olahraga terpopuler di dunia.

Beberapa negara malah menganggap sepakbola sebagai ‘agama’ baru, begitu cintanya mereka dengan sepakbola. Kecintaan itu diwujudkan dengan kinerja nyata, mereka mengemas tontonan tersebut sebagus mungkin. Dampaknya, sepakbola menghasilkan atlit terkaya didunia. Penghasilpun diraih negara dimana liga sepakbola berlangsung.

Para penonton yang fanatik tetap tidak melewati batas lapangan. Mereka sadar bahwa penonton menentukan kualitas liga, kompetisi harus dijalankan tanpa gangguan dari pendukung. Betapa buruknya permainan tim, para pendukung tetap hadir tanpa merusak lapangan. Bahkan, mereka tak segan dan malu duduk berdampingan dengan pendukung yang berbeda tim.

Harmonisnya para pendukung sepakbola pantas dijadikan teladan para pendukung capres. Silahkan kritik tim masing-masing, jangan cemooh tim lawan. Berani? Tradisi ini harus kita mulai dan tularkan pada generasi selanjutnya. Kompetisi politik dinegeri ini harus meneladani sepakbola, para pendukung berperan menjadi pensukses kompetisi tersebut.

Suara penonton memang irama yang menambah daya tarik tontonan. Namun, suara itu sebaiknya tidak menghina penonton lainnya. Sorak sorai sebagai penyemangat perlu, namun sekali lagi jangan menghina penonton lainnya. Beda tim itu sah, secara konstitusi dijamin, tak peduli waras atau gila.

Jangan merusak kompetisi dengan tindakan yang tak sepatutnya. Jangan pula rusak persahabatan demi kemenangan tim. Yakinlah bahwa tim yang bertanding merupakan mantan penonton yang kini menjadi pemain. Bahkan mereka masih suka menonton ketika tim lain yang bertanding.

Kemarin dan hari ini kita bukan menonton pertandingan namun kita menonton penonton. Sosial media menyajikan liga pendukung capres maupun caleg. Tak jelas apa mereka bagian pemain yang menyamar menjadi penonton, atau penonton yang terobsesi menjadi pemain, bisa jadi pula penonton yang ngarep dijadikan pemain.

Sejak penonton berlagak pemain, kompetisi yang sebenarnya jadi tak ternikmati. Ibarat sebuah website yang terlalu banyak iklannya. Lama kelamaan kita jadi malas membaca tulisan diweb tersebut. Saat seorang supporter meninggal akibat diserang fans club lain, bukan mustahil dalam politik hal itu terjadi pula. Harapannya jangan sampai terjadi.

Cara terbaik yang bisa kita lakukan ialah menjadi penonton/pendukung yang bijak. Jangan terprovokasi berita-berita tak sehat. Teriak mendukung boleh-boleh saja, namun jangan serang penonton lain. Jangan meneror pemain dengan ucapan-ucapan tak sedap. Jangan ganggu penonton lain yang butuh tontonan menarik, penonton yang ingin ketawa karena ada pemain salah menendang bola.

Pilpres adalah liga utama dalam politik nasional. Kita sebagai penonton, penilai, silahkan saksikan dan jangan ganggu kenikmatan orang lain menonton kontestasi tersebut. Biarkan para official team memaparkan visi dan misi, biarkan capres dan cawapres berjanji, berargumen, selamat menonton dengan segelas kopi.