Sumber foto: business insider

Oleh Don Zakiyamani

Kopi malam ini tak begitu nikmat, barangkali penjualnya sedang bergosip soal politik. Sama halnya dengan pengunjung yang menghisap rokoknya seperti para rentenir menghisap para peminjam uang. Kopi menjadi tak nikmat sejak diskusi politik diganti gosip politik. Bila diskusi terarah, maka gosip tanpa nakhoda, tak jelas arahnya. Diskusi melibatkan teori, akal sehat, nalar, dan terarah. Sementara gosip lebih kentara pemutarbalikan fakta, emosional, dan pasti tidak terarah.

Dahulu gosip didominasi kaum perempuan, tapi kini gosip malah menjadi hidangan utama pria selain kopi, dan warkop menjadi monumennya. Meja kopi menjadi saksi gosip politik yang dilancarkan para aktivis, akademisi, bahkan politisi. Padahal, dengan diskusi politik kita mendapatkan pengetahuan namun gosip politik kita mendapatkan ketidakjelasan arah.

Berbeda dengan gosip politik yang kabarnya hasil analisa diskusi politik, politik gosip menciptakan ketakutan dan harapan. Politik gosip biasanya memutarbalikkan fakta. Salah jadi benar dan sebaliknya benar jadi salah, politik gosip memang pintar menipu. Biasanya digunakan politisi dan disebarkan para supporternya. Politik gosip melindungi politisi dari penyampaian visi dan misi yang tak bermutu. Politik gosip kini dimainkan media-media dengan sebaran nasional, bahkan ketika politisi kentut sekalipun, tetap staf yang disalahkan.

Politik gosip akan mudah mencerai beraikan sebuah bangsa. Kapan bangsa ini mulai pecah? Sejak siapa mencalonkan diri? Itu artinya ada politik gosip yang dicerna masyarakat kita. Pencernaan akal kita sudah rusak, hoaks bisa dianggap titah illahi. Nalar tak lagi berfungsi, wajar bila kemudian yang tak waras kini sama dengan kita. Barangkali karena yang menganggap waras semakin tak waras. Orang gila memang tak pandai menyebar hoaks apalagi memproduksi hoaks.

Kini kopiku benar-benar tak nikmat, sejak diskusi digantikan gosip. Politik gosip memperparah rasa kopi. Kalau begitu, kapan kita ngopi lagi sambil diskusi?