foto Bas Van Brandwijk

Merujuk data United Families International, industri pornografi kini menyentuh 4,9 Trilyun Dollar AS di seluruh dunia. Menariknya lagi, ternyata 1 dari 3 orang yang menyaksikan pornografi adalah perempuan. Tercatat pula total 25 juta situs penyedia pornografi, atau 12 persen dari total situs didunia maya.

Akar kata pornografi terdiri dari porne yang berarti pelacur dan graphein yang berarti menulis. Kini maknanya semakin luas, misalnya Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi mendefinisikan pornografi sebagai

gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi, dan pertunjukan di muka umum yang memuat kecabulan, atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Kasus prostitusi online yang baru-baru ini terungkap memberi gambaran tambahan betapa mahalnya sebuah sensasi. Kenikmatan sesaat yang dirasakan mampu mengeluarkan uang jutaan rupiah, barangkali hal ini pula yang menggugah seorang menteri akan mengeluarkan regulasi pajak kepada pengusaha online.

Secara historis praktik ‘jual’ kemolekan tubuh bukanlah hal baru. Hanya modus operandi yang berbeda, mengikuti perkembangan zaman. Dan selalu yang dibicarakan dan dihinakan perempuan, produsen kegiatan tersebut. Sementara si konsumen, jarang diketahui identitasnya.

Sama halnya dengan narkoba, bisnis jasa ini harusnya menangkap para pemakai, bukan hanya produsen. Biasanya barang mewah yang kita gunakan dikenai pajak, tidak tahu apakah angka puluhan juta ini dikenai pajak atau tidak. Bila menggunakan roda dua yang harganya belasan juta dikenai pajak, masa sih yang puluhan juta tidak.

Bisnis online yang melibatkan kemolekan tubuh perempuan akan selalu ada. Pasalnya, perut dan dibawahnya merupakan persoalan utama bangsa ini. Demi perut jual negeri, demi kelamin jual negeri, maklum, mendapatkan sensasi bercinta dengan artis lebih mahal dibandingkan dengan yang lain.

Bahkan, agar lolos tender APBN, perempuan dan uang dijadikan suap yang efektif. Nah, kalau yang dijadikan suap misalnya seorang artis, kira-kira proyeknya segede apa nominalnya? Ibarat skala di peta, beberapa senti saja untuk menggambarkan luas suatu wilayah. Dalam hal ini, 6-7 senti sebagai simbol proyek kiloan meter yang sedang dinegosiasikan.

Vanessa dihina karena menjual diri, namun yang jual negeri dipuji. Bisa jadi penjual negeri adalah pembeli 6-7 senti tersebut. Dan hingga detik ini tidak ada bukti kalau Vanessa dan teman-teman menjual negeri, tidak ada pula bukti mereka merugikan keuangan negara. Walaupun memang standard harga mereka mempengaruhi daya beli, dan nominal korupsi.

Mahalnya sebuah sensasi kadang kala memurahkan yang harusnya mahal. Berakal tetap berpotensi nakal dan ‘gatal’. Benarlah bahwa tanpa jiwa manusia hanya mesin biologis, dan sebuah mesin bisa menua, berkarat, rusak. Bisnis prostitusi merupakan contoh penganalogian manusia sebagai mesin biologis.

Data Havocscop mengatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-3 dunia soal bisnis tersebut. Per tahun sekitar Rp32,6 triliun perputaran uang, Vanessa hanya satu dari sekian banyak produsen. Dan anehnya pihak kepolisian tidak memberi efek jera bagi konsumen. Sudah pasti konsumen Vanessa merupakan kalangan menengah keatas secara ekonomi. Jangan sampai muncul stigma polisi takut pada konsumen prostitusi online, kalau ada jenderal yang jadi konsumen gimana bang?

Bagaimana kalau pengguna jasa Vanessa kalangan politisi papan atas? Atau pengusaha yang dekat penguasa? Menurut saya, KPK bisa gunakan jasa Vanessa untuk mengungkap fakta korupsi. Yakinlah, diatas ranjang akan terjadi buka-bukaan, termasuk berapa uang yang dikorup, kepada siapa saja diberikan. Sudah saatnya menggunakan jasa Vanessa untuk mengungkap kasus-kasus besar yang sulit dibongkar.