Lokasi foto: Gerobak Arabica, Pango, Banda Aceh

Oleh Don Zakiyamani

Syukur Alhamdulillah masih bisa menikmati kopi, meski harus berhati-hati dengan serangan asam lambung. Foto tulisan ini diambil ketika penulis berada di sebuah warkop, letaknya di jalan Prof. Ali Hasyimi Pango, Banda Aceh. Genre kopinya Arabica, filosofisnya; make coffee not war. Sebuah pesan untuk pria dewasa yang gemar menyelesaikan persoalan dengan jalan kekerasan (perang). Jalan yang sebaiknya diganti dengan ngopi, toh kekerasan efek negatifnya lebih banyak.

Makanya kita patut bersyukur dengan semakin banyaknya caleg, setidaknya mereka lebih realistis. Dari pada perang angkat senjata, mereka lebih memilih jalur manusia dari pada hewan. Kita patut bangga dengan perubahan pola pikir tersebut, mereka memang manusia bernyali. Menurut pandangan awam saia, tak semua orang berani menjadi caleg. Kalau pun berani belum tentu siap dengan kata kalah, saia apresiasi hal tersebut.

Nah, pasca pengumuman hasil CPNS ternyata banyak caleg yang mundur. Nada sinis mulai muncul, bagi saia mereka realistis. Mereka ingin kepastian, dan tampak semangat juang mereka. Berjuang untuk negeri tidak harus jadi A atau B, selama ada peluang mengabdi, profesi apapun sah-sah saja. Kembali soal caleg, kita juga patut berbahagia karena orang-orang baik sudah mau terjun ke politik. Mereka yang baik, berintegritas, berkualitas, berintelektualitas, meski no money, harus kita coblos.

Ketika kita pernah mencemooh wakil rakyat yang korup, tidak becus, malas, dan lain-lain, kini saatnya kita pilih yang sebaliknya. Mereka yang nyaleg hari ini, dalam pandangan awam saia merupakan orang-orang yang ingin berbuat lebih terhadap negaranya. Meski ada yang aji mumpung, coba-coba, serta tujuan negatif lainnya, namun percayalah angkanya kecil. Motivasi yang negatif harus kita jawab dengan tidak memilihnya. Sementara caleg yang berintegritas, berkualitas dan berintelektualitas harus kita perjuangkan.

Tujuan sederhananya agar meminimalisir kita nyinyir di sosial media pasca inaugirasi wakil terpilih. Ketika kita begitu sinis atas kinerja wakil rakyat, sebenarnya kita patut mengevaluasi pilihan kita sebelumnya. Caleg inkumben lebih mudah kita teliti, sementara caleg baru harus sedikit keluar biaya untuk beli paket data. Namun itu bagi kebaikan kita dan negeri kita, anggap saja kita hendak membeli sesuatu yang kita idamkan. Dengan demikian kita akan benar-benar teliti sebelum memilih.

Seorang teman kemudian bertanya, masih perlukah kita memiliki wakil rakyat? Argumennya didasari pengalaman selama menjadi tim pemenangan seorang caleg. Katanya, caleg pilihan dia awalnya sangat berintegritas dan berkualitas serta berintelektualitas, namun setelah terpilih malah sebaliknya. Wajahnya tampak geram, sembari meminum kopi didepannya. Selesai ia bicara diskusi berlangsung, mulai dari pendapat Thomas Hobbes hingga pemikir asal Prancis Jean Jacques Rousseau, berhamburan dimeja kopi kami.

Daripada mubazir saia kutip pendapat Thomas Hobbes soal negara, pemikir asal Inggris itu mengatakan sebelum ada negara manusia hidup dalam kekacauan. Meskipun sudah ada hukum adat maupun hukum moral tidak tertulis. Setiap orang hanya mengejar kebebasan dan kenikmatannya masing-masing. Alhasil, konflik terjadi secara berkelanjutan. Karenanya manusia kemudian menyerahkan otoritasnya kepada orang-orang yang dipercaya untuk mengatur dirinya, termasuk wakil rakyat.

Pandangan berbeda disampaikan Jean Jacques Rousseau, ah ngopi dulu ya. Nah, pemikir Prancis berhadapan dengan Thomas Hobbes, ia mengatakan justru sebelum adanya negara, manusia hidup dalam kebebasan dan kedamaian. Tidak ada hirarki antar manusia. Semua orang hidup dalam keadaan bebas dan setara. Walaupun pada dasarnya ia tetap tak menentang negara namun meminta kebebasan dan kesetaraan tetap hidup.

Ah kopi semakin nikmat, demokrasi tetap membutuhkan wakil rakyat. Terlepas kinerja dan prilaku wakil yang masih belum sesuai harapan bersama, namun lembaga itu tidak salah. Saatnya kita mengisi kekosongan wakil rakyat dari kalangan berintegritas, berkualitas dan berintelektualitas. Kita ikut andil bila nantinya wakil rakyat yang terpilih bukan orang baik. Kalaupun kita pernah kecewa atas pengkhianatan, sebaiknya ubah pola pikir itu. Ketika kita dikhianati, pertanda kita orang baik, do’akan para pengkhianat amanat agar mendapat hidayahNya. Tindakan kita? Meneliti caleg yang bisa mendatangkan berkah bagi negeri ini. Nah, saatnya ngopi