Sumber foto: unsplash

Menurut asumsi banyak orang secara umum, cerdas berarti orang pintar secara akademis, mendapat nilai baik, dan bijak dalam mengambil keputusan.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan, orang yang berani mengkritik dirinya sendiri justru lebih cerdas. Dengan kata lain, orang cerdas menerima kekurangannya dan menjadikan itu patokan untuk belajar lebih giat.

Dalam Journal of Individual Differences,  Para peneliti menemukan bahwa orang yang bernilai IQ lebih tinggi cenderung lebih penasaran dan terbuka terhadap gagasan baru. Rasa penasaran sangat terkait dengan kecerdasan seseorang, barangkali kopi semakin cerdas karena ia selalu penasaran dengan perbincangan orang-orang yang mengkonsumsinya.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Psychological Science pada 2009 menguji bagaimana pengendalian diri berkaitan dengan kecerdasan. Sama halnya dengan penelitian kopi, ia perhatikan para penikmat kopi yang sejati dan peminum kopi yang menggebu-gebu. Orang-orang yang reaksioner, tempramen, menurut penelitian kopi bukanlah tipikal manusia cerdas.

Lalu, menurut sebuah penelitian di University of Pennsylvania, orang cerdas cenderung mau melihat sesuatu dari perspektif yang lain daripada hanya menerima satu sudut pandang saja. Selain itu, orang cerdas cenderung merumuskan pendapat setelah mempertimbangkan beberapa sudut pandang, bukan hanya melakukan penilaian cepat.

Artinya manusia yang fanatik terhadap politisi, sebuah isme bahkan mazhab tanpa mempertimbangkan beragam pandangan dan dalil, bukanlah manusia cerdas. Maka kita sangat mudah menemukan para pendukung capres maupun caleg yang tidak cerdas di sosial media maupun dikehidupan nyata.

Menemukan dalil-dalil shahih dari pernyataan politisi, penguasa, maupun akademisi merupakan hak dan kewajiban seseorang yang disebut cerdas. Melalui rasa penasaran, kontrol diri, open-minded, sebuah info kita cerna sebaik mungkin.

Selain hal-hal tadi, menurut British Journal of Psychology, orang yang lebih nyaman sendiri adalah orang yang lebih cerdas. Selain itu, jika kita sering berbicara pada diri sendiri, itu adalah tanda kejeniusan. Tak masalah jika tidak setuju dengan hal-hal diatas, itu pertanda anda orang cerdas. Lalu bagaimana bentuk kecerdasan itu sendiri.

Menurut Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, kecerdasan itu memiliki banyak bentuk, mulai dari kecerdasan musikal, logis-matematis, gerak tubuh sampai dengan kecerdasan empatis dalam hubungan antar manusia. Dan kecerdasan dalam politik bisa disebut sebagai bentuk yang kini dibutuhkan bangsa ini.

Ellen Vrana, salah satu penulis politik asal AS, merumuskan lima ciri dari kecerdasan politik, yakni integritas, kesadaran diri, empati, strategi dan eksekusi. Ia memahami kecerdasan politik sebagai kemampuan untuk mempengaruhi orang, guna mewujudkan tujuan-tujuan tertentu. Menurut Ellen Vrana, integritas berarti kemampuan untuk mempertahankan nilai-nilai luhur , bermoral.

Hal ini bukan hanya harus dilakukan politisi yang berkompetisi, akan tetapi kita yang awam sekalipun harus memilikinya. Sebagai pemilih kita harus tahan godaan, baik berupa uang maupun tawaran jabatan. Kita harus menjadi pemilih cerdas, kita harus melawan politik gosip. Misalnya kalau si A terpilih bakal otoriter karena dia dari militer. Politik gosip semacam ini memang menakutkan, karenanya harus dilawan dengan kecerdasan.

Kesadaran diri itu penting, karenanya kita harus paham kapan bicara dan kapan diam. Politisi biasanya banyak yang tak sadar diri, merasa serba tahu. Padahal tidak ada seorang pun yang memiliki kemampuan itu. Kita sebagai pemilih hendaknya punya kesadaran diri, jangan asal bicara apalagi terkait politik gosip. Sebagaimana saya contohkan diatas soal otoriternya seseorang bila terpilih.

Selain itu, kita hendaknya memiliki empati. Melalui empati kita dapat melihat sudut pandang orang lain. Kecerdasan politik ini harus kita miliki sebagai pemilih cerdas, apalagi anda yang menjadi caleg maupun capres. Salah satu indikasi manusia cerdas ialah dapat melihat sebuah persoalan dari bermacam sudut pandang. Dan hal terakhir yang dikatakan Vrana terkait kecerdasan politik, strategi-eksekusi.

Strategi diikuti eksekusi harus dilakukan melalui penelitian, kajian ilmiah mendalam. Kajian ilmiah mendalam bukan hanya milik ilmuwan, kita yang awam juga tak haram menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Budaya berpikir terbuka, bebas, rasional dan kritis, merupakan seperangkat alat yang hendaknya kita miliki. Para politisi wajib melakukan strategi yang diikuti eksekusi dengan tahapan ilmiah.

Strategi dimulai dengan merumuskan tujuan, tindakan, evaluasi dan perbaikan. Ini diterapkan mulai dari perumusan kebijakan, pengambilan keputusan sampai dengan penentuan strategi jangka panjang. Nah, Kita yang awam juga boleh berpikir ilmiah, agar tidak menjadi bigot. Agar tidak cepat-cepat menuduh Don Zakiyamani pendukung A atau B, karena siapapun yang terpilih tetap saya kritisi semampunya.

Sejak dahulu hingga sekarang, kopi tak berbeda rasa kecuali ada politik gosip dan gosip politik. Sejak akademisi bergelar mewah menjadi bigot, kopiku mulai tak nikmat lagi. Mari berpikir ilmiah, singkirkan ngomong tanpa data dan analisa. Yuk ngopi