Lokasi Gerobak Arabica, Pango Banda-Aceh

Nonton bareng (nobar) biasanya dilakukan untuk sebuah tontonan menarik, event sekelas final liga champion eropa, piala dunia, atau tontonan yang digagas jenderal Gatot Nurmantyo terkait film G30S/PKI. Namun kali ini, debat pilpres juga direkomendasikan nonton bareng. Menurut kopi, nobar tanpa dirinya adalah kesalahan pertama dan membuat tontonan tidak menjadi tuntunan. Subtansi debat pilpres sebenarnya apa? Demikian pertanyaan kita yang awam, maklum saja debat pilpres katanya rendah kualitas, tidak manusiawi, alias menghamburkan uang rakyat. Kalau begitu mengapa ikut memperkaya stasiun TV dan para bohir politik?

Dengan argumen sederhana mereka pasti menjawab bahwa debat berguna untuk mengetahui kualitas capres. Penyampaian visi dan misi capres terkait materi debat, maupun retorika lainnya. Maaf, bukan sinis namun mencoba logis, begitu pentingkah nobar dagelan politik yang tidak lebih menarik dari stand-up comedy? Sayangnya, KPU tidak mengabarkan dengan detail biaya debat. Berapa uang rakyat yang dikeluarkan untuk sebuah kegiatan yang jauh dari kata ilmiah.

Tanpa debat sekalipun sebenarnya rakyat sudah ada pilihan, sudah tahu kualitas tokoh-tokoh stand-up comedy yang hadir. Apalagi ada tokoh yang suka berjanji, mulai janji meng-Indonesia Indosat, janji tidak impor hingga mobnas yang kini bernasib naas, alias tak ada realisasi. Kalau debat hanya menjadi ajang janji baru, tanpa niat realisasi akan menjadi dosa baru. KPU dan rakyat akan menjadi pihak yang paling berdosa, pasalnya panitia (KPU) dan donatur (rakyat) menyediakan panggung dosa.

Okelah argumen dosa dianggap terlalu religi, barangkali yang lebih netral aspek moral. Capres yang gemar janji namun tak realisasikan. Materi debat kan sama dengan materi 5 tahun yang lalu. Misalnya soal HAM, emang 4 tahun ini ada pengungkapan dan penangkapan pelanggar HAM. Bicara visi dan misi tapi yang dibahas masa lalu, mirip abege yang gak bisa moved on. Tidak ditepatinya janji semasa kampanye merupakan masalah moral. Ah sudahlah, bila memang debat dianggap sebanding dengan pengeluaran yang dikeluarkan, silahkan lanjut.

Barangkali nobar bisa menemukan hal baru, entah itu ilmiah atau lelucon tahun politik. Saran saia, jangan lupa ngopi karena kelucuan-kelucuan didebat capres akan mengocok perut. Apalagi kalau boleh tanya sama audiens. Teringat seorang capres yang ditanyak soal guru honorer, ujung cerita wartawan disuruh menanyakan pada menteri. Betapapun lucunya debat pilpres, saia ucapkan selamat nobar dan jangan lupa ngopi.