Sumber foto unsplash

Kemarin saat ngopi bersama teman-teman, ada dua pendukung capres-cawapres yang bersiap menonton debat. Skenario illahi menempatkan posisi duduk kami berada diantara keduanya. Suara tv sudah terdengar dan layar lebar juga sudah siap menyambut debat. Kami tak mengikuti ritual kedua kubu, selepas menikmati segelas kopi, kami meninggalkan tempat tersebut.

Ditempat berbeda, saya menemukan sejarah seorang pemikir. Dunia akademis barangkali menyebutnya filsuf atau sophis. Apapun sebutan yang pas, satu hal yang pasti nasibnya berakhir tragis karena pemikirannya. Muridnya kemudian menulis kisah dan pemikirannya, Plato ingin dunia mengenal gurunya. Socrates beruntung punya murid secerdas Plato, tentu saja itu buah dari dedikasinya pada dunia pemikiran.

Barangkali kita sepakat bahwa sebuah pemikiran, ideologi, ajaran, aliran, daya tahannya bergantung pada 3 hal; seberapa besar pemikiran tersebut dapat diterima di tengah masyarakat, penguasa dan komitmen para pengikutnya dalam menjaga kelangsungan. Menjadi wajar bila sebuah pemikiran mengalami fluktuasi, maaf kalau diksi fluktuasi kurang pas. Poin yang saya maksud, pemikiran mengalami masa suram dan Jaya.

Nasib pemikiran-pemikiran Socrates pun demikian. Bila di Indonesia kita mengenal Syaikh Siti Jenar yang dikemudian hari harus divonis mati karena dianggap ajarannya tidak sesuai pada saat itu. Nasib keduanya sama persis, dan barangkali hal yang sama bakal didapati Rocky Gerung. Sosok yang sedang menjadi perhatian dunia intelektual dan politik, kecerdasannya, dianggap luar biasa namun ada pula yang menganggap ya bahaya. Wajar bila dalam acara ILC dirinya kerap menjadi sasaran tembak, biasanya diserang 2-3 orang bahkan lebih.

Sebenarnya bukan diserang namun diajak berdansa, irama kebencian lebih kuat dibandingkan irama ilmiahnya. Sama seperti Syaikh dan Socrates, pemikiran Rocky dianggap baru bagi sebagian kalangan, bahkan berbahaya. Kita berharap nasibnya tak seperti Socrates maupun Syaikh Siti Jenar. Meskipun apa yang terjadi pada Munir bisa saja terjadi pada Rocky, penguasa dimanapun tak akan membiarkan para pemikir mempengaruhi rakyat sehingga membahayakan kekuasaan.

Cara yang dilakukan para penguasa berbeda-beda, namun subtansinya sama. Socrates terbilang lebih beruntung dibandingkan Syaikh Siti Jenar. Pasalnya Socrates memiliki murid yang tak kalah kondang dari dirinya. Sementara pemikiran Syaikh Siti Jenar bahkan dinegerinya sendiri kurang diketahui, hanya segelintir yang masih melestarikan ajaran dan pemikirannya. Itupun masih dianggap tabu, wali sembilan yang lebih dikenal dan dianggap paling benar.

Socrates dan Syaik Siti Jenar pernah dianggap aneh pada masanya. Hari ini Indonesia mempunyai pemikir yang kerap menyulitkan penguasa. Kemampuan semiotik, logika, bahasa, serta gestur yang tenang, ditopang ilmu dan pengetahuan, menjadikan Rocky Gerung sejajar dengan Socrates, Plato, Aristoteles, Thales, Protagoras, dan sophis lainnya. Namun diera kedunguan, menangkap pesan syarat makna bukanlah perkara mudah. Nyaris enggannya kita berdialektika, miskinnya rasional namun kaya emosional, menempatkan Rocky sebagai lawan padahal ia membuka kekakuan berpikir, kerigitan berpikir, ia membawa pesan Islam yang mengharuskan kita banyak baca dan pikir.

Kita bahkan tak berani berkata dan berteriak sebagaimana Socrates lakukan. “Aku tidak tahu, tapi aku tahu, bahwa aku tidak tahu!”, demikian teriak Socrates disebuah warkop di Athena. Bagi Socrates penalaran jernih merupakan syarat utama hidup dengan benar. Meski ayahnya pembuat patung dewa, Socrates bukan penyembah berhala, bahkan ia dituduh sebagai Atheis pada zamannya. Pemikiran yang disampaikan secara lisan tanpa tulisan, mengusik pemikiran penguasa pada saat itu.

Demikian pula dengan Rocky yang mencoba memindahkan pemikiran langit ke bumi. Maaf, saya bukan fanatik pada Rocky, apalagi menisbatkan ia sebagai Nabi. Toh Rocky tidak sehebat yang kita anggap, Rocky masih ada lubang dalam pemikirannya. Misalnya, Rocky masih nakal membalas cemoohan dengan diksi yang kurang lebih sama dengan pencemoohnya. Disitu yang menurut analisa penulis perlu ditutup dengan sabar. Rocky emosi melihat dan mendengar kedunguan, apalagi bila lawan bicaranya tak mampu mendekati pemikirannya. Jangankan menyambung pola pikirnya, mengoreksi, bahkan mendekatinya pun sukar.

Ia hanya ingin kita menjadi manusia, sebagaimana Socrates yang mengajarkan ketidaktahuan merupakan kita. Adam AS diajarkan Allah SWT. sehingga ia menjadi tahu, ia kemudian berpikir. Dan Islam memang diturunkan untuk orang-orang yang berpikir. Ketidaktahuan dan mengetahui ketidaktuan kita akan menjadikan kita sebagai insan yang mau mencari tahu. Cara berpikir reflektif, kritis, analitik, empatik, harus dikembangkan. Banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang mengajak kita berpikir reflektif. Kita akan menemukan i’tibar yang bisa dijadikan pedoman dalam tahapan berpikir dan bertindak saat ini.

Seni berpikir kritis yang ditularkan Socrates kepada Aristoteles dan Plato telah menempatkan kedua murid tidak sepenuhnya setuju dengan ucapannya. Rocky mengajarkan itu, kita tak harus setuju dengannya. Hal utama yang dia inginkan adanya dialektika, secara sederhana saia definisikan dialektika sebagai sebuah proses berdiskusi yang panjang untuk memperoleh pengetahuan sejati. Bagi kita termasuk saia yang awam, dapat memulainya dengan berdiskusi secara personal, diskusi dengan diri sendiri.

Dengan dialetika maka kebenaran bukan hanya milik penguasa atau yang dekat dengan pusat kekuasaan semata. Kira-kira apa yang terjadi jika saat itu Syaikh Siti Jalil atau Syaikh Siti Jenar yang dekat dengan kekuasaan? Atau apa yang terjadi bila Socrates dalam lingkaran kekuasaan? Apakah sejarah hidup mereka sama dengan sejarah yang kita baca hari ini. Demokrasi hadir untuk mengakomodir perbedaan-perbedaan, termasuk perbedaan dalam menilai kopi mana yang terbaik. Setelah Socrates pernah menelanjangi pemikiran penguasa, kini Rocky melanjutkan tradisi tersebut. Cukup dulu, akan kita lanjutkan dalam ngopi yang akan datang.