Ahok bakal bebas 24 Januari 2019

Media sedang gencar membicarakan Ahok, selain soal politik dan hukum, ada pula yang membahas soal calon istrinya. Adalah Jacques Derrida, pemikir Prancis yang mengajak kita dekonstruksi, sebuah seni menunda kepastian makna dari sesuatu, dan kemudian membiarkannya terbuka, guna menghasilkan kebaruan-kebaruan yang tak terduga. Berangkat dari itu, kini menarik bila memaknai kehadiran Ahok diranah politik nasional. Terlepas dari kesalahannya dimasa lalu, faktanya, kesalahan berdampak positif bagi umat Islam.

Kesalahan Ahok telah memicu persatuan umat Islam melalui aksi empati di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Ghirah ke-Islaman bangkit bahkan mencairkan perbedaan mazhab dan fiqh yang selama ini mengganggu harmonisasi internal umat Islam. Ahok menjadi pemicu kesadaran kolektif umat Islam untuk berpolitik. Umat Islam tidak lagi apatis, cuek, tidak pula melulu bicara qunut dan tidak qunut, serta tekhnis ibadah lainnya. Umat Islam di Indonesia bangkit menjadi kekuatan politik seperti dimasa lalu.

Namun, kebangkitan umat Islam diranah politik perlu diwaspadai. Sejarah Islam maupun sejarah umat Islam di Indonesia memiliki catatan kelam. Menjaga stabilitas kebangkitan merupakan tantangan yang lebih dahsyat. Faktanya, polarisasi umat Islam pasca Ahok dipenjara mulai terasa. Stigma radikalisme dan terorisme yang mengarah pada Islam masih kuat. Kelompok yang mengklaim diri sebagai Islam moderat lebih aman, sementara Islam konservatif dan tradisional sering dicurigai.

Tokoh Islam hendak berdakwah ditolak organisasi Islam, nama ulama dicatut demi meraih kekuasaan politik. Umat Islam dalam kebingungan kolektif, setiap hari ada saja kelompok ulama mendeklarasikan dukung capres A dan B. Di sosial media umat saling tinju, membela ulamanya masing-masing. Umat Islam kehilangan musuh bersama pasca Ahok, walaupun sejatinya masih ada musuh bersama yang lebih besar daripada Ahok, bahkan ia musuh bangsa ini bukan hanya musuh umat Islam.

Mereka bisa beragama apapun, mereka lebih menakutkan dari para teroris bom bunuh diri. Ya, para koruptor. Kelompok ini masih bebas, bahkan masuk dalam lingkaran kekuasaan. Meski namanya berkali-kali disebutkan dalam BAP, dari mulut saksi dan tersangka dipengadilan, namun ia masih bebas. Realitas ini menunjukkan bahwa kita masih lugu didepan koruptor, masih ketakutan, masih tidak tegas. Barangkali karena ia berada dalam lingkar kekuasaan dan punya peran memenangkan penguasa dalam kontestasi sebelumnya.

Pernyataan Ahok menurut J.L Austin merupakan pernyataan performatif, menurutnya setiap tindakan berbicara manusia dapat diartikan dengan dua cara, yakni secara konstatif, atau secara performatif. Menurut Austin, pernyataan konstatif ialah pernyataan tentang fakta sebagaimana adanya dan sifatnya deskriptif, yakni menggambarkan sesuatu secara langsung tanpa penilaian apapun. Misalnya; ‘anda sedang membaca tulisan ini’. Sementara performatif selain memberi gambaran fakta, kita ingin mengubahnya pula. Sederhananya, menyatakan sekaligus melakukan sesuatu.

Urusan cinta misalnya, sepasang kekasih menyatakan siap saling setia setelah dinyatakan sah secara agama dan negara menjadi suami-istri. Ucapan saling setia itu kemudian melahirkan tindakan, atau setelah akad mereka memulai janji mereka dengan implementasi dalam kehidupan rumah tangga. Pernyataan Ahok dikategorikan performatif setelah ia menambahkan ‘jangan mau dibohongi’. Ada upaya mengubah pemikiran pendengar terkait makna ayat yang diucapkan Ahok.

Meskipun bila diserahkan pada Derrida ia akan menolak pemaknaan tersebut. Derrida ingin pemaknaan ulang atas satu hal yang selama ini dianggap lazim. Sejalan dengan Bacon yang bahkan menolak sebuah hasil penelitian langsung dianggap kebenaran, bagi Bacon eksperimen dan uji ulang penelitian oleh peneliti yang berbeda harus dilakukan. Dekonstruksi pemikiran menjadi penting dilakukan guna menghindari pemaknaan tunggal, biasanya pemaknaan tunggal dilakukan sebuah rezim atau penguasa.

Pemaknaan tunggal oleh penguasa berakibat pada bergantinya the enemy of states berdasarkan pemaknaan penguasa. Ketika Rocky Gerung meluncurkan kalimat ‘kitab suci’ itu fiksi, kita bereaksi berlebihan bahkan membully nya. Padahal RG membuka diskursus menarik, ia ingin kita berpikir dan melalui itu kita dapat menguji kitab suci. Secara ilmiah nantinya akan diketahui mana kitab rekayasa, mana kitab palsu serta original book. Bila kitab suci ada yang palsu, konon lagi informasi yang disampaikan media bayaran penguasa maupun pengusaha.

Dalam hal ini sumbangan pemikiran Derrida dipopulerkan kembali Rocky Gerung. Dekonstruksi secara sederhana menurut Royle bertujuan untuk menggoyang, memindahkan, dan mengubah semua konsep bahasa, psikologis, tekstual, estetis, historis, etis, sosial, politik, dan bahkan religiusitas. Dalam fiqh dan tarikh Islam dekonstruksi juga terjadi, hal yang sama juga terjadi dalam agama Kristen. Melalui dekonstruksi lahir Kristen protestan dan progressif.

Pernyataan Ahok membuat manusia Indonesia kembali belajar. Lomba tafsir, logika, sejarah, etis, bahkan ribuan tulisan muncul pasca pernyataan Ahok. Ini manfaat akademis yang bisa kita petik dari kasus Ahok di kepulauan. Selain membaca ulang yang sudah lazim, kita baiknya memaknai ulang segala hal. Tujuannya sederhana, agar kita semakin mantap dengan yang kita pahami selama ini. Kita juga menjadi ilmiah dalam merespon setiap isu, termasuk isu politik. Banyak kata yang selama ini dipahami sepenggal bahkan seperempat, kedalam makna akan menyegarkan kembali hal-hal yang dianggap sudah kuno sekalipun.

Dekonstruksi juga sejalan dengan demokrasi, melalui demokrasi kata moderat, radikal, bahkan teroris perlu kita kaji ulang. Bahkan demokrasi perlu diuji kembali, dimaknai kembali. Dan ngopi juga jangan dipahami sebagai aktivitas biasa saja. Selamat menempuh jalan baru Ahok, semoga kita bisa ngopi bareng.