Foto by @katyukawa/unsplash

Oleh Don Zakiyamani

Berita beberapa media online membuat kopi gelisah, sedikit curiga namun tetap berusaha mengkonsolidasikan pikiran-pikiran positif. Rembuk fakta sudah dilakukan para peneliti, negeri Syariat Islam dinyatakan termiskin, sarang hoaks, intoleransi. Meski dilakukan dua lembaga berbeda namun nyaris dirilis dengan interval hanya beberapa jam. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menyatakan Aceh menempati posisi pertama dengan jumlah persentase penduduk miskin tertinggi se-Sumatera dan peringkat 6 di Indonesia.

Data LIPI, daerah yang memiliki afiliasi dengan Islam politik, sangat tinggi tingkat penerimaan informasi hoaks. Aceh menjadi salah satu yang disebutkan LIPI. Selain itu Aceh juga dilabelkan sebagai daerah paling tidak toleran. Tentu saja kopi bertanya, benarkah hasil penelitian tersebut? Bila benar, apa yang mesti kita lakukan? Bila salah, apakah ini cara mendiskreditkan Islam di Aceh? Beragam pertanyaan muncul, dengan jawaban yang lebih beragam lagi. Sebagai orang awam, tak baik membantah penelitian para pakar yang ilmunya pasti wow banget.

Namun Protagoras berpendapat beda, menurutnya kebenaran itu ditentukan oleh setiap manusia sendiri sebagai individu. Artinya halal bagi kita yang awam untuk mengkritisi hasil penelitian tersebut. Data-data diatas memberi gambaran bahwa Aceh daerah miskin, intoleran, dan banyak informasi hoaks. Wah lengkapnya nilai negatif yang didapat, bakal jadi bahan tulisan dan propaganda bahwa syariat Islam tidak cocok diterapkan secara formal. Biarlah syariat Islam diterapkan secara personal, demikian propaganda yang akan mengisi kepala-kepala rakyat Indonesia bahkan Internasional.

Sekedar mengingatkan yang dikatakan Degrasse Tyson (2005) bahwa kita tidak boleh mengambil data dan fakta dari penelitian ilmiah untuk kepentingan politik ataupun ekonomi kita. Karena jika kita melakukan itu, kita sedang merusak nalar kita sebagai manusia, dan menghancurkan ilmu pengetahuan. Sementara ilmu pengetahuan berguna bagi kehidupan, memperbaiki kualitas kehidupan diberbagai sisi kehidupan kita. Ilmu pengetahuan juga mempengaruhi cara pandang manusia terhadap sesuatu, baik berupa doktrin, ajaran, isme, maupun benda-benda hasil ilmu pengetahuan.

Sumbangan ilmu pengetahuan memang tak terbantahkan, tak diragukan apalagi diremehkan. Dan hal terpenting dari ilmu pengetahuan ialah metode penelitian ilmiah, sebuah ikhtiar sistematik dan istiqomah guna mendapatkan objektifitas. Yaitu kebenaran yang diakui, lepas dari keyakinan dan pandangan pribadi peneliti. Pandangan metode penelitian ilmiah semacam ini berangkat dari ungkapan Francis Bacon. Menurutnya semua pemahaman harus diuji, bila beberapa kali eksperimen dilakukan oleh beberapa peneliti yang berbeda mendapat hasil yang sama, maka sampailah kita pada obyektivitas.

Dalam hasil penelitian LIPI, meskipun menggunakan metode penelitian ilmiah, haruslah tetap kembali diuji oleh peneliti yang berbeda. Itu artinya hasil penelitian LIPI masih belum sampai pada maqam obyektivitas. Karenanya kita tak perlu bereaksi diluar batas, misalnya langsung menasumsikan bahwa syariat Islam menjadi biang intoleransi, informasi hoaks mudah didapat, serta stigma negatif lainnya. Saya jadi teringat tulisan Rizqy Amelia Zein (Assistant Lecture in Social and Personality Psychology, Universitas Airlangga)

Manipulasi metode statistik juga dapat menghasilkan temuan riset yang tidak kredibel. Manipulasi ini dapat disebabkan kecurangan peneliti atau adanya konflik kepentingan periset dengan sumber dana dari industri yang hanya mau dengan hasil positif untuk mendukung pemasaran produk.

Theconversation.com/Manipulasi statistik, mengapa banyak temuan penelitian tak dapat dipercaya

Sekali lagi perlu ditegaskan, kita yang awam termasuk saia tidak punya kapasitas untuk membantah atau menolak hasil riset LIPI. Kita hormati dengan cara menguji kembali temuan tersebut, dan sebagai manusia merdeka kita halal berpikir analitik, kritis, reflektif dan empatik. Ditempat terpisah Dr. Reza A.A Wattimena sudah jauh-jauh hari mengkritisi dunia intelektual kita. Beliau mengatakan;

Di Indonesia, pengetahuan belumlah menjadi kebutuhan. Ilmu pengetahuan masih sekedar menjadi hiasan kepribadian. Gelar akademik sekedar dipampang di undangan pernikahan, guna meningkatkan nama baik keluarga. Pada akhirnya, kesulitan menekuni bidang keilmuan hanya bermuara pada kegiatan pamer pada tetangga dan keluarga.

Semoga kita bukan orang-orang yang dimaksud sehingga kita tetap bisa mengkritisi hasil penelitian LIPI. Bila punya ilmu dan biaya silahkan uji hasil penelitian LIPI. Miskin harta bukan alasan harus pula miskin ilmu, gagasan, ide. Semangat mengkritisi tak harus bergelar akademik mewah, biarlah dianggap bodoh oleh orang-orang pintar daripada dianggap pintar oleh orang-orang bodoh. Kepada orang-orang berilmu mohon jangan miskin karya, kami yang awam butuh ilmu-ilmunya.

Sebelum kopi habis, jangan menelan hasil penelitian seorang guru besar sekalipun sebagai kebenaran tunggal. Ada baiknya hasil penelitian tersebut dijadikan dasar penelitian-penelitian lanjutan. Penelitian yang mendalam guna mencegah propaganda. Cara sederhana kita hargai penelitian para ahli bergelar akademik bagi kita yang awam adalah tetap ngopi dan diskusi.