Foto: radioidola

Beberapa hari ini Putri kelihatan sibuk menggaruk kepalanya. Bahkan aktifitas barunya itu dilakukan jelang tidur malam, selidik lebih dalam, kata ibunya ada kawanan kutu yang bersarang dikepala Putri.

Begitulah kawanan Kutu yang bersarang dikepala memang sangat mengganggu. Kutu rambut merupakan serangga kecil yang tinggal di rambut manusia dan hidup dari mengisap darah melalui kulit kepala.

Masa tetas telur kutu berkisar antara 8-9 hari. Untuk mencapai ukuran dewasa, seekor kutu biasanya membutuhkan waktu 9-12 hari. Setelah dewasa, kutu bisa hidup sampai empat minggu sebelum akhirnya mati.

Kutu rambut hanya diidap manusia dan hanya dapat menular antar manusia saja. Parasit ini tidak dapat ditularkan pada hewan atau pun sebaliknya. Lain halnya dengan Kutu Anjing, selain mengisap darah pada hewan, serangga ini juga bisa menggigit dan mengisap darah manusia.

Saat menggigit manusia, kutu anjing bisa menyebabkan gatal-gatal dan gangguan kesehatan. Kutu anjing memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat pada hewan piaraan.

Kutu ini juga berpotensi berkembang biak di halaman rumah yang tidak bersih. Itu artinya bagi yang tidak memiliki anjing atau kucing di rumah bisa menjadi mangsa Kutu anjing.

Maka kita patut berhati-hati pada hewan kecil jenis kutu. Didalam kehidupan bernegara dan terutama didalam politik, kita sering temukan jenis kutu. Biasanya julukan pada politisi yang gemar gonta-ganti parpol.

Mencalonkan diri jadi Bupati dari partai A, mencalonkan diri sebagai wakil rakyat dari partai B. Mencalonkan jadi Cagub/Cawagub dari partai C, dan selepas dari penjara barangkali pindah lagi ke partai D. Tujuan hanya satu, menghisap darah pendukungnya yang lugu.

Didunia politik hal itu katanya biasa, lumrah, dan sah-sah saja. Tapi politik sejatinya tetap memiliki etika, tetap ada benar dan salah, tidak semua halal kecuali bagi penganut Machiavelli dan kawan-kawan. Meski teori Kang Machiavelli didukung mas Thomas Hobbes yang menganalogikan manusia sebagia Serigala (Homo Homini Lupus).

Kita tentu masih ingat penandatangan kesepakatan Batu Tulis, seorang Capres berjanji secara tertulis akan mendukung cawapresnya menjadi capres pada pilpres selanjutnya. Tapi dikemudian hari hal itu disangkal, atau janji seorang capres tidak akan impor hasil pertanian namun setelah terpilih malah sebaliknya. Hal-hal begini dianggap wajar dan lumrah serta halal dalam politik.

Konon lagi hanya menjadi Kutu, tentu lebih wajar lagi. Demikian rasionalisasi yang dipertontonkan elit, sekarang dibudayakan hingga tataran kampus, kampung, bahkan terhadap anak/istri/suami. Sehingga, reputasi politisi mau tidak mau semakin anjlok, meskipun masih banyak pula yang mengelukan penista politik.

Warkop-warkop kita terkadang ikut mempraktikan politik tersebut. Misalnya, bubuk kopi yang tidak menghasilkan rasa kopi bermutu tetap disajikan ke pelanggan. Harga sama walaupun rasa beda, kecewa pasti karena pada dasarnya kopi ingin tampil sempurna didepan ‘kekasihnya’.

Kutuisme yang senang menghisap darah kepala dengan janji-janji dimimbar suci harus dibasmi. Gara-gara prilaku mereka , politik identik dengan licik, culas, khianat, hingga orang-orang baik alergi berpolitik. Akibatnya para Kutu merasa paling berhak atas politik, merasa bahwa politik ya seperti yang mereka peragakan.

Dampaknya sistemik, peragaan politik yang culas, saling memangsa demi kekuasaan dianggap kenyataan. Padahal politik saling memangsa menunjukkan rendahnya sebuah peradaban. Politik moderat sebenarnya sudah dicontohkan Nabi Muhammad di Madinah. Sayangnya jarang dipraktikan bahkan oleh umat Islam sendiri.

Memang butuh kecerdasan tingkat tinggi untuk memperagakan politik tersebut. Hingga yang dungu kemudian putus asa, politik culas kemudian diperagakan, dipertontonkan, bahkan dijadikan pedoman. Licik dan khianat serta tidak menepati janji politik merupakan ciri berpolitik orang-orang dungu. Orang-orang cerdas akan berbuat sebaliknya.

Kutuisme telah menjadikan bangsa ini sebagai barang dagangan. Aspirasi rakyat dijual pada bohir, regulasi dibuat asal bohir senang. Elektabilitas dipuja sementara intelektualitas dihina, dianggap pengacau, dianggap cari muka, dan sebutan dungu lainnya.

Genosida bad moral harus segera dilakukan, membasmi kutu dapat dilakukan dengan jangka pendek dan panjang. Jangka pendek dapat menggunakan obat pembasmi atau menggunakan sisir serit. Kita dapat menjadikan otak kita sebagai serit yang akan menseleksi Kutu. Mekanisme pemilu salah satunya sebagai sarana konstitusional untuk menseleksi politisi.

Segarkan otak kita dan hindari framing media serta politisi yang mengacaukan akal sehat. Saatnya kita kembalikan politik pada posisinya, ingatlah bahwa orang cerdas tidak berpolitik dengan culas namun ikhlas, menepati janji politik hingga tuntas, dan intelektualitas tidak akan diganti dengan elektabilitas. Salam waras