Foto unsplash

Sikap Qana’ah lenyap datanglah tamak, dan ketika tamak bertahta bersiaplah merasakan kolonialisme didalam diri kita. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Tirmidzi no. 2346 dan Ibnu Majah no. 4141 dikatakan bahwa jika kita memiliki rasa aman dirumah, diberi kesehatan, dan hari itu ada makanan pokok, maka seolah-olah dunia terkumpul pada kita.

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Itu artinya bila ke- 3 hal itu kita miliki, kita telah memiliki kekayaan yang luar biasa. Jadi tak elok bila masih merasa kurang apalagi sampai mengambil hak orang lain. Harusnya bersyukur, apalagi bila ada segelas kopi ditemani istri sholehah. Kita semua sudah tahu konsep Islam tersebut, tapi memang godaan datang tak diundang namun pulang harus kita tendang.

Tamak memang penyakit kontemporer dan merakyat, bisa menjangkiti siapapun. Tamak tidak rasis sehingga semua warna kulit, suku, bangsa, dapat menjadi tempatnya bertahta. Menurut mas Jacques Lacan, manusia merupakan subyek yang selalu merasa kurang, makanya masih ada orang kaya yang jadi maling.

Rasa ingin selalu lebih dan rasa selalu kurang bersemayam dalam diri. Tamak melahirkan ideologi kapitalis yang kini sudah mengakar. Sulit membasminya meski bukan mustahil. Islam mengajarkan doktrin syukur agar kita tidak tersungkur dalam kehidupan. Melalui syukur kita akan menjadi Qana’ah. Bila kumpulan manusia Qana’ah membangun sebuah negeri maka keberkahan yang akan kita dapati. Sebaliknya bila manusia tamak yang bertahta maka celaka yang kita dapati.

Kisah seorang pemuda bersama Nabi Isa AS dalam buku Al-Ilajul Qur’ani karya Dr. Muslih Muhammad. Pada saat itu mereka memiliki 3 roti. Selepas masing-masing memakan satu roti harusnya roti tersebut tersisa satu, namun faktanya roti tersebut habis. Nabi Isa AS bertanya, “wahai pemuda siapa yang memakan roti yang terakhir”? Pemuda tersebut menjawab tidak tahu.

Diperjalanan mereka ketemu seorang buta yang dengan izin Allah SWT melalui Nabi Isa dapat melihat kembali. Pertanyaan yang sama diajukan Nabi Isa dan jawaban yang sama diberikan pemuda tersebut. Singkat cerita Nabi Isa AS dengan izin Allah SWT menjadikan 3 bongkahan batu yang ditemukan menjadi emas. Nabi Isa As mengatakan “satu emas ini untukku, satu untukmu dan sisanya untuk yang memakan roti sisa tadi”.

Pemuda itu akhirnya mengaku bahwa dialah yang memakan roti terakhir. Nabi Isa AS kemudian berkata; “semua emas kuserahkan padamu namun kita harus berpisah”. Nabi Isa meninggalkan pemuda tersebut, dan pemuda itu tidak mampu membawa 3 bongkahan emas tersebut. Beberapa saat setelah itu datanglah 3 orang pemuda menghampiri pemuda tersebut. Melihat emas tersebut ke-3 nya langsung membunuh pemuda tersebut.

Kini emas itu dimiliki 3 pemuda yang baru datang tersebut. Karena lapar, mereka mengundi siapa yang harus ke pasar membeli makanan. Salah seorang diantara mereka kemudian ke pasar, dalam hati ia berencana akan membunuh dua orang temannya dengan meracuni makanan yang dibawanya. Sekembalinya ia menjumpai teman-temannya, ternyata kedua temannya telah berencana membunuhnya. Maka terbunuhlah pemuda tersebut, wajah riang kini menghinggapi dua pemuda tersebut sambil menikmati makanan yang dibeli temannya.

Tak lama setelah itu, kedua mulai muntah-muntah dan lemas. Ternyata makanan itu sudah diracuni, kedua pemuda itu akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Nabi Isa AS bersama sahabat-sahabat lain kemudian melintasi tempat itu. Nabi yang melihat 4 mayat dan 3 bongkahan emas itu berkata kepada para sahabat; “beginilah dunia memperlakukan penghuninya yang tamak, waspadalah”.

Yuk bersyukur, hindari tamak karena dampaknya buruk, baik didunia maupun diakhirat. Bahkan tamak bisa memecah belah keluarga, pertemanan, hingga negara. Banyak kasus-kasus perebutan harta dan tahta yang didasari ketamakan. Semoga kopi kita hari ini membuat kita lebih bersyukur.