Selain kata cinta, kata ‘cantik’ adalah salah satu kata yang sering diperdebatkan oleh maestro kopi dibelahan dunia. Semakin didefinisikan semakin absurd, dan semakin liar menapaki logika-logika kaum pria. Bahkan, kita yang seTuhan dan seagama sekalipun akan memiliki definisi berbeda soal kata ‘cantik’. Kata yang satu ini akan membuka perkakas berpikir manusia, meski majalah perempuan atau sejenisnya sangat sering mempublikasikan daftar perempuan cantik.

Namun penjelasan mereka tetap saja tidak memuaskan. Meski melalui tahapan ilmiah, diverifikasi para ahli kecantikan, tetap saja tidak mampu memufakatkan apa itu cantik. Ilmu pengetahuan modern setidaknya sudah beberapa kali membuktikan apa yang kita anggap benar ternyata salah. Indera kita sangat sering salah dan kita sering tertipu.

Bila kita coba mendefinisikan cantik dengan indera maka kemungkinan salah sangat terbuka. Akhirnya kita akan terjebak diantara kenyataan dan ilusi, bisa jadi kebanyakan kita akan memilih ilusi yang nyata ketimbang kenyataan yang ilusi. Kita mengira apa yang hoaks sebagai benar dan sebaliknya demikian pula. Pikiran kita yang harusnya menuntun pada kebenaran malah menjadi penghalang jalan.

Dalam hal ini aduen Steve Hagen menuliskannya sebagai Tetralema, sebuah kebingungan manusia dalam memahami sesuatu. Pemikiran Hagen dinisbatkan pada pemikiran filsuf asal India, Nagarjuna (2300 tahun yang lalu). Secara sederhana Tetralema adalah jalan pikiran kita dalam memahami sesuatu yang ada didepan mata kita. Seperti kopi, kue, rokok, meja, kursi, dan termasuk cantik.

Hagen dan Nagarjuna membantah argumen Tetralema, mereka menemukan kelemahan argumen tersebut.

Argumen pertama dari tetralema adalah sesuatu atau sebuah benda didefinisikan oleh dirinya sendiri, tidak butuh benda atau hal lain. Cantik adalah cantik, meja adalah meja, kopi adalah kopi. Menurut Hagen dan Nagarjuna argumen ini lemah, faktanya kita mengenali sesuatu dalam hubungan dengan hal-hal lainnya. Cantik ada, karena ada jelek, baik ada, karena ada buruk. Kopi bisa dikenali karena ada susu, teh, dan jenis minuman lainnya.

Argumen ke-dua dari tetralema ialah sebuah benda atau sesuatu dikenali karena terkait dengan lingkungannya, atau memiliki hubungan dengan lingkungannya. Sesuatu dikenali karena lingkungannya, kata ‘Aku’ didefinisikan oleh kamu, mereka, dan sebagainya. Cantik didefinisikan oleh jelek dan sebaliknya.

Lagi-lagi menurut Hagen dan Nagarjuna, argumen ini lemah. Jika sesuatu atau sebuah benda selalu didefinisikan oleh sesuatu atau benda lainnya, atau lingkungannya, maka benda atau sesuatu tersebut tidak memiliki identitas pada dirinya sendiri. Argumen ke-3 merupakan gabungan antara ada karena ada dan ada karena didefinisikan oleh lingkungannya.

Argumen ini juga dianggap lemah, pasalnya gabungan inti sebuah benda dan benda yang didefinisikan oleh lingkungannya, akan melebur, dan saat itu terjadi tidak ada lagi perbedaan. Padahal sebuah pengetahuan membutuhkan distingsi. Lalu argumen ke-4, benda atau sesuatu tidak didefinisikan oleh benda itu sendiri, maupun oleh lingkungannya.

Kelemahan argumen jelas sekali, jika sebuah benda atau sesuatu tidak mendefinisikan dirinya sendiri dan tidak pula oleh lingkungannya, bagaimana kita mendefinisikan benda tersebut, bagaimana mengenalinya. Secara gamblang tampak bahwa benda itu tidak ada. Dengan demikian ke-4 argumen gagal membuktikan bahwa cantik ada.

Tidak ada jalan yang kokoh untuk mengenali cantik, ia seolah ada namun tidak bisa membuktikan secara meyakinkan bahwa ia ada. karena ia tidak sungguh dapat diketahui secara meyakinkan. Namun via tetralema kita sadar bahwa pengetahuan kita tentang dunia juga tidak dapat dipastikan, termasuk tentang cantik. Apa yang kita anggap sebagai ada, termasuk uang, kecantikan, nama baik, keluarga, kesedihan, ketakutan, kekecewaan, sesungguhnya tidaklah ada.

Semoga kita tidak lagi dijajah oleh pikiran kita karena sesungguhnya pikiran adalah sebuah alat. Dan alat bisa salah dan disalahgunakan.