Sumber foto unsplash

Sore itu seperti biasa saya mendapat berkah untuk mengambil obat ibu saya. Di sebuah Apotek yang berseberangan dengan rumah sakit pemko, obat tersebut rutin diambil setiap bulan. Suasananya tak begitu ramai, sedang menunggu obat diracik saya sedikit menikmati lalu lintas kota kelahiran. Selang beberapa waktu datang dua perempuan bersama seorang anak laki-laki usia 2-3 tahun.

Setelah menyodorkan resep obat keduanya duduk terpisah. Nenek dari anak laki-laki tersebut tampak mengajak bicara cucunya. Sementara ibu/mamak dari anak laki-laki tadi sibuk dengan gawainya. Ketika balita itu memanggil respon si mamak biasa saja. Balita yang belum benar-benar kuat berjalan itu mencoba meraih mamaknya, sayangnya mamaknya sedang swafoto.

Ketika merasa tak dihiraukan si anak terus berjalan meninggalkan mamaknya. Sementara si nenek sedang sibuk bicara dengan Apoteker. Melihat nasib Balita tersebut, saya patut bersyukur dilahirkan pada era tanpa gawai. Ibu saya pastinya lebih peduli pada anaknya ketimbang yang lain. Di sebuah warkop saya juga pernah menyaksikan hal yang rada mirip, mama dan papa sibuk bergawai anaknya tersungkur dari kursi.

Barangkali teman-teman punya pengalaman yang sama. Harus diakui bahwa gawai mampu menggeser kedudukan anak. Meski tak semua ibu yang demikian akan tetapi gejala tak sehat ini harus dihentikan. Karena anak adalah amanah dari Yang Maha Kuasa, buah dari rasa cinta serta perjuangan dua insan. Mereka berhak mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tua betapapun sibuknya kedua orang tua.

Kadang kala kita temui pula orang tua yang sibuk mencari nafkah demi anak namun disaat yang sama menelantarkan anaknya. Asumsinya masih sama, memberikan harta berlimpah kepada anak dianggap sebagai bentuk kasih sayang terbaik. Padahal Balita tidak butuh itu, mereka butuh kasih sayang serta perhatian dari kedua orang tuanya.

Kalaupun ia meninggalkan usia balita bukan berarti harta dan segala jenis mainan mampu menggantikan pelukan dan perhatian kedua orang tua. Dalam banyak Hadist dengan konten yang beragam namun subtansinya sama disebutkan bahwa anak dilahirkan menurut fitrahnya, kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Termasuk menjadikannya kapitalis, komunis, maupun atheis.

Mengutip Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Masudi pada pengajian daring kitab Jawahir al-Bukhari, beliau mengatakan bahwa prilaku orang tua akan ditiru anak, meski tak 100 persen namun akan mendekati. Maka bila anak dididik dengan Akhlak Mulia, anak cenderung begitu. Dan bonus dunia dan akhirat akan didapati orang tua, sebaliknya pun demikian sehingga perlu kehati-hatian dalam mendidik anak, kata beliau.

Dalam sebuah hadist disebutkan; Setiap engkau adalah pemelihara, dan setiap engkau akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya: Seorang pemimpin adalah pemelihara, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Seorang laki-laki juga pemelihara dalam keluarganya, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Dan seorang perempuan adalah pemelihara dalam rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. [HR. al-Bukhâri][1]

Semoga teman-teman yang sudah memiliki anak lebih perhatian pada anak-anaknya. Semoga mereka memiliki aqidah yang benar, menjadi insan yang selalu menebar kebaikan, cerdas, dan selalu bermanfaat bagi orang lain terutama keluarga, dimanapun ia berada.


[1] Lihat Fathul-Bâri, Kitab al-Jumu’ah, II/380, hadits no. 893. Hadits senada juga dkeluarkan oleh Imam Muslim. Lihat Shahîh Muslim Syarh Nawawi, tahqîq : Khalîl Ma’mûn Syiha, XII/417, hadits no. 4701