Foto Unsplash

Setiap kali ngopi sangat jarang kita berterima kasih pada salah satu anggota tubuh. Tugasnya mengangkat gelas, mengambil kue, mengambil gula, bahkan bagi perokok ia bertugas memegang rokok hingga isapan terakhir.

Melalui dia kita berdo’a, dalam sebuah hadist disebutkan Allah merasa malu bila tak mengabulkan do’a hambaNya yang mengangkat kedua tangannya. Ya, tangan memang memiliki fungsi dan peran strategis dalam kehidupan kita. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa bila melihat kemungkaran kita dianjurkan mencegah dengan tangan kita.

Disaat yang sama, melalui tangan pula kerusakan diatas muka bumi dilakukan manusia. Kerusakan dan kebaikan diatas muka bumi ternyata bisa dilakukan tangan kita. Dan dalam konteks politik, tangan kita menentukan sebuah pilihan untuk negeri ini.

Banyak pula akademisi hingga politisi yang masuk penjara karena tangannya. Entah itu karena terima atau memberi suap, ada pula yang tidak teliti dalam menandatangani sebuah dokumen. Tanpa disadari maupun disadari, tangan menentukan taqdir kita.

Di era digital sekarang ini, tangan memiliki peluang menyatukan dan mempolarisasi sebuah negara. Suami-istri bisa bercerai hanya karena tangan, perselingkuhan kerap terjadi hanya karena tangan mengirim pesan aduhai. Tangan pula yang sering menjadi lambang persahabatan, ketika dua tangan saling berjabat tangan. Dan beragam lagi sebab yang bisa dilakukan tangan.

17 April 2019, tangan memiliki tugas berat. Begitu banyak pilihan wakil rakyat dan ada dua pasangan capres-cawapres. Salah coblos kertas suara bisa rusak, salah coblos masa depan bangsa bisa buram. Lihatlah hutan kita yang mengalami deforestasi karena tangan-tangan manusia, begitu pula nasib negeri ini.

Tangan-tangan korup telah mengambil hak orang lain. Tangan-tangan korup telah memutuskan kebijakan pro bohir politik sehingga negeri ini sebentar lagi bakal jadi dongeng dimasa depan. Bahkan 62 persen varietas kopi bakal punah menurut para peneliti. Semua bermula dari tangan-tangan yang tidak amanah memegang kuasa.

Setiap kita memiliki amanah yang harus dipegang erat, dijalankan sesuai hak dan kewajibannya. Tangan yang membasuh wajah dengan air wudhu jangan dikotori prilaku korup. Menyuap dan terima suap. Jangan pula tangan yang membelai anak-anak disaat yang sama menjadi ‘tangan besi’ pada rakyatnya. Tangan yang senang menangkap para pengkritik.

Jangan pula tangan yang memegang kitab suci disaat yang sama malah memegang bom bunuh diri dan membunuh manusia lainnya. Jangan pula tangan yang berdzikir disaat yang lain menyebar hoaks. Tangan akan bersaksi, antagonis atau protagonis akan tergantung pada kita yang dipinjamkan tangan.

Meski pemilu dan pilpres yang dihitung suara akan tetapi sesungguhnya tangan berperan. Ada pula sebagian kita memilih lepas tangan, karena menurutnya tidak ada pilihan yang pas. Tentu saja tangan yang berbuat memiliki pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan yang berlepas tangan. Sudah saatnya kembali bertanya; sudah idealkah tangan kita selama ini?

Apakah tangan akan menjadi saksi meringankan atau memberatkan kelak. Jawabannya sederhana, bila memiliki akun sosial media, apakah tangan itu menyebarkan kebaikan atau sebaliknya. Bila memiliki jabatan apakah tangan tersebut merancang dan membuat regulasi yang menguntungkan orang banyak serta untuk kebaikan atau sebaliknya.

Kita pantas ‘cemburu’ pada Imam Mazhab, ahli Hadist, yang menggunakan tangannya untuk menuliskan kalimat-kalimat penuh ilmu. Kalimat-kalimat yang hingga kini kita pakai sebagai pedoman. Melalui karya-karya mereka kita paham mana munafik, fasiq, dan kafir. Melalui jihad mereka kita dapat menentukan mana kebaikan dan kejahatan. Tanpa mereka kita bakal tak paham cara ibadah yang benar.

Semoga tangan kita menjadi tangan yang selalu berdo’a, berbakti kepada kedua orang tua, tangan yang menyayangi anak-istri, tangan yang melindungi yang lemah, tangan yang bersedeqah pada sesama, tangan yang meraih tangan lain yang butuh bantuan.

Semoga kita lebih mensyukuri dan menghargai tangan kita. Menghargai tangan dan mensyukurinya berarti kita akan memfungsikannya sesuai fitrahnya. Melakukan kerja-kerja kebaikan sebagaimana dicontohkan Muhammad SAW, para sahabat, para ahli fiqh, ilmuwan, termasuk kedua orang tua kita.