Sumber foto: pixabay.com

Usai perang fenomenal (badar), umat Islam diingatkan oleh manusia paling agung (Muhammad SAW) agar tidak terlena dengan kemenangan. Nabi malah mengingatkan bahwa perang baru dimulai. Perang melawan diri sendiri memang perang paling dahsyat, menguras energi luar-dalam tanpa kenal waktu. Secara Quick-Count barangkali lebih sering kita dikalahkan. Setidaknya lebih baik kita anggap lebih sering kalah agar terhindar dari riya’ dan ujub serta penyakit hati lainnya.

Peringatan Nabi bahwa perang baru dimulai setelah kemenangan perang badar merupakan bentuk pencegahan dari penyakit hati maupun dari fitnah. Secara bahasa fitnah dapat dimaknai sebagai ujian, cobaan, bala’, bencana dan siksaan. Nabi memperingatkan kita agar tidak menjadi manusia yang paginya beriman namun sorenya tidak, dan sebaliknya sore beriman namun paginya tidak [1].

Kemenangan pada perang fenomenal itu harusnya dirayakan, apalagi perang tersebut atas perintah dan izin Allah AWJ. Namun Nabi paham betul bahwa manusia sering lengah ketika merayakan sebuah kemenangan. Sebut saja kemenangan setelah melaksanakan puasa Ramadhan, sering kali perayaan dilakukan berlebihan sehingga kehilangan subtansi dari makna kemenangan itu sendiri.

Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Menang dalam sebuah kompetisi terkadang dirayakan berlebihan akibatnya kemenangan itu menjadi semu dan kekalahan yang sebenarnya terjadi. Bukankah kehidupan dunia ini hanya permainan dan senda gurau belaka serta melalaikan?[2]. Lantas mengapa kita harus mengorbankan kehidupan akhirat demi sebuah senda gurau.

Kontestasi politik harusnya bisa menjadi ibadah apabila kita niatkan demi Allah semata. Bukan demi para kandidat yang kita dukung. Sebuah ibadah selain diniatkan kepada Allah, harus pula dilakukan dengan ikhlas serta ilmu, atau menanyakan pada yang berilmu. Sebuah kompetisi juga harus dilaksanakan dengan jujur agar kemenangan dan kekalahan mendapat berkah. Salah bila kita anggap kekalahan tidak memiliki berkah. Kemenangan yang menjadikan kita semakin bertaqwa merupakan berkah demikian pula dengan kekalahan. Namun bila kemenangan semakin menjauhkan kita denganNya, maka itu bukan kemenangan namun kekalahan.

Cara kita meraih kemenangan juga menentukan nilai kemenangan tersebut. Meski di kelas meraih angka tertinggi namun dilakukan dengan kecurangan, maka itu bukan prestasi akan tetapi kebohongan. Dalam perang badar umat Islam tidak melakukan kecurangan, namun Nabi melarang euforia, konon lagi bila kemenangan diraih dengan cara-cara jahat. Wajar bila negara ini kerap kali jauh dari keberkahan karena cara agar terpilih sebagai wakil rakyat, kepala daerah hingga kepala negara masih menggunakan cara Jahiliyah.

Wajar pula bangsa ini jauh dari kata berkah ketika para pendukung tak jauh beda dengan pendukung pemuka quraisy. Rakyat masih mengadopsi karakter kaum Jahiliyah mustahil menghasilkan pemimpin amanah. Ramadhan akan menjadi bulan latihan, bulan dimana yang halal sekalipun haram dimakan pada pagi-sore. Mari meraih kemenangan hakiki.

[1] [HR. Abu Dawud (4259), Ibnu Majah (3961) Al-Fitan, Ahmad (19231), dan Hakim]

[2] [QS. Al Hadid: 20]