Foto: bbc

Konflik Papua isunya semakin besar. Isu rasisme bergeser menjadi isu referendum bahkan wacana Papua merdeka kembali menguat. Kita yang awam menganggap isu itu benar murni, tapi kalau kita perhatikan lebih jeli kelihatan ada ‘pemain’ utama.

Entah siapa mereka. Pastinya mereka paham isu yang layak dijual pasca pilpres di hari kemerdekaan Indonesia. Isu 182 pengungsi Nduga meninggal dunia bahkan dikalahkan isu rasisme yang belum jelas pokok persoalan.

Isu kemerdekaan Papua bukan isapan jempol. Mereka secara berani mengibarkan bendera bintang kejora. Bandingkan dengan Aceh. Usaha mahasiswa yang ingin mengibarkan bendera di depan gedung DPRA berujung ricuh.

Mengapa terjadi perbedaan sikap? Padahal Aceh memiliki kewenangan bendera sendiri berdasarkan MoU Helsinki meski bendera tersebut akhirnya ditolak pusat. Tapi Papua bahkan tidak memiliki kewenangan tersebut.

Barangkali dua peristiwa itu dapat menjadi bekal bagi kita. Kembali menganalisa bahwa ada ‘orang kuat’ dalam disaian konflik Papua. Tulisan ini tidak akan mengungkap hal itu.

Sejatinya wacana berpisah dari NKRI lebih maju GAM (Gerakan Aceh Merdeka) ketimbang OPM maupun organisasi pembebasan Papua merdeka lainnya. Setidaknya telah menyusun struktur kepemimpinan layakanya sebuah negara.

GAM sudah memiliki perangkat negara dan kemiliteran. GAM juga memiliki hubungan internasional dan lokal yang sama baiknya. Kelebihan ini yang tidak dimiliki Papua. Tapi ternyata kelebihan ini pula yang menjadi kelemahan.

Ketika GAM menyatakan diri siap menjadi bagian NKRI maka isu merdeka selesai. Berbeda dengan Papua, meski OPM berkata A belum tentu rakyat Papua berkata A pula. Sehingga kemungkinan Aceh merdeka telah tutup buku.

Papua barangkali bernasib seperti Timor Leste. Tergantung deal politik negara-negara yang ingin meraih SDA Papua, tergantung kecerdikan pemerintah pusat ‘bermain’.

Sementara Aceh sudah dipastikan jauh dari kata merdeka. Aceh akan selamanya dalam NKRI. Tidak terlalu buruk selama rakyat Aceh benar-benar merdeka. Tidak dijajah nafsu untuk berlaku tidak adil pada sesama.

Rakyat Aceh harus memiliki cara pikir maju. Misalnya jangan sampai anak-anak Aceh tidak sekolah, anak-anak Aceh harus bebas narkoba. Mustahil Aceh merdeka atau maju apabila pejabat, generasi muda, masih nyabu.

Percuma Aceh berpisah dari NKRI kalau pola pikir masih belum maju. Sama saja keluar dari mulut buaya masuk mulut singa. Bagaimana dikatakan maju kalau masih minta fee proyek, padahal proyek didanai uang rakyat.

Bagaimana Aceh bakal maju apabila proyek dijalankan bukan atas dasar kebutuhan rakyat tapi atas dasar kepentingan kontraktor. Kalau Aceh serius ingin berpisah dari NKRI hanya ada satu jalan, tingkatkan kualitas manusia Aceh.

Bayangkan apabila manusia Aceh mampu membuat mobil Aceh, handphone Aceh, serta alat-alat produksi yang dibutuhkan pasar. Bayangkan apabila manusia Aceh mampu semuanya pemberi zakat, tidak ada lagi penerima zakat.

Nah, ketika itu yang terjadi. Kemungkinan Aceh merdeka selalu ada. Satu hal yang harus disepakati ialah jangan gunakan senjata api. Harus dilakukan dengan cara manusiawi. Selamat berakhir pekan.