Sebagai sebuah bangsa, Aceh memiliki sejarah panjang dan berliku. Konflik vertikal dengan pemerintahan Indonesia menjadi salah satu yang terpanjang dan sengit. Percikannya bahkan masih ada hingga sekarang. Meski perdamaian sudah disepakati oleh GAM-RI.

15 Agustus 2005 menjadi babak baru dalam sejarah konflik GAM-RI. Kata sepakat elit GAM dan RI tersebut disambut gempita, bukan hanya oleh pemerintah Indonesia akan tetapi oleh sebagian rakyat Aceh. Tapi kini bara itu kembali hidup. Mengapa?

Butir MoU yang di atas kertas begitu indah nyata tidak di lapangan. Barangkali sudah sifat politisi yang gemar berjanji tapi agak malas menepati. Akibatnya keraguan hadir di ruang publik. Teriakan merdeka meski tak nyaring namun sayup-sayup terdengar.

Meski tak di ruang publik namun suara kemerdekaan hadir di bilik-bilik diskusi, di atas meja kopi maupun di tempat-tempat yang jauh dari para intelijen negara. Merdeka memang cita-cita semua manusia, tak terkecuali bangsa Aceh. Jadi salah apabila dikatakan Aceh tak perlu merdeka karena merdeka adalah kebutuhan siapapun di atas muka bumi ini.

Siapakah yang mau terjajah atau dijajah. Siapakah yang tak butuh kemerdekaan. Everyone neeed it. Tapi kemerdekaan itu harus lahir dari sendiri jangan bergantung sepenuhnya pada orang lain. Kalau kita baca sejarah bangsa manapun di atas muka bumi ini, penjajahan berakhir bukan hanya karena penjajah kalah namun karena terjajah ingin merdeka.

Jika bangsa Aceh ingin merdeka maka merdekalah. Syarat pertama harus merdeka dalam berpikir. Kemerdekaan berpikir bukanlah perkara mudah apalagi di zaman kebenaran selalu terlambat menghadapi hoaks yang viral. Zaman di mana kita malas meneliti sebuah informasi apalagi menganalisis informasi tersebut.

Selain merdeka berpikir, syarat agar sebuah bangsa merdeka ialah mau berhijrah. Bukan sebatas fisik namun jiwa. Kalau dahulu malas membaca buku dan jurnal ilmiah, kini membaca buku dan jurnal ilmiah harus dijadikan hobi. Dan jangan lupa menulis apa yang didapatkan dari bacaan tersebut.

Pertanyaannya? Berapa persen bangsa Aceh yang ingin merdeka rajin membaca dan menuliskannya? Berapa persen bangsa Aceh yang rela menyisihkan uang untuk membeli buku? Lalu berapa persen bangsa Aceh yang bercita-cita anaknya harus sekolah tinggi?

Sekarang kita patut bertanya pula pada elit Aceh yang rela menghabiskan ratusan juta demi jabatan politik, berapa ratus juta yang mereka habiskan demi peningkatan SDM bangsa Aceh. Apakah elit-elit tersebut rela hidup sederhana asalkan anak-anak Aceh dapat kuliah kemanapun?

Yang ingin saya sampaikan, solidaritas sesama bangsa Aceh itu seberapa tinggi. Apakah elit mau dan rela berkorban demi rakyatnya? Atau malah elit yang sering mengorbankan rakyatnya demi kepentingan diri dan kelompoknya?

Apabila bangsa Aceh ingin merdeka maka wajib bagi elit dan rakyatnya bersatu. Saling bantu membantu agar masa depan Aceh lebih baik lagi. Jangan ada lagi anak-anak Aceh yang tidak kuliah, jangan ada lagi rumah-rumah yang tak layak huni.

Generasi Aceh harus terdidik dan terhindar dari narkoba. Para intelektual kampus tidak lagi sibuk membodohi namun mencerdaskan. Apabila misi tersebut dapat dijalankan, bukan mustahil bangsa Aceh akan merdeka. Setidaknya angka kemiskinan bukan lagi milik Aceh. Dan orang-orang yang ingin cerdas menjadikan Aceh sebagai destinasi utama.

Sederhananya begini, warga negara Asing menjadikan Aceh sebagai pusat menimba ilmu. Dalam pergaulan akademik internasional, Aceh menjadi kiblat. Lahir Hasan Tiro, Socrates, Aristoteles, Al-Ghazali, Ibn Sina, bahkan tokoh secerdas Ali juga ada di Aceh.

Bayangkan apabila Aceh menjadi pusat peradaban dunia, mustahilkah Aceh merdeka? Satu hal yang harus disepakati, jangan mencari alasan Aceh tidak bisa menjadi pusat peradaban. Saatnya bangsa Aceh Merdeka, dimulai dengan merdeka dalam berpikir.