Foto: forbes

Di tengah pro kontra pemindahan ibu kota, Aceh dan Papua ikut berkompetisi di dalam persoalan negara. Dua daerah tersebut seolah tak pernah berhenti menjadi pusat pemberitaan. Dan selalu ada keuntungan yang didapat segelintir orang.

Dalam perspektif ekonomi dua daerah tersebut memiliki modal sumber daya alam yang diperebutkan negara-negara besar. Menariknya, konflik di kedua daerah tersebut semakin meruncing seiring perang dagang Amerika Serikat dan Cina.

Barangkali tak ada kaitannya namun bisa jadi sangat terkait. Akar semua konflik sejak zaman dahulu tidak bisa lepas dari motif ekonomi. Apalagi kebutuhan industri lama (tambang) masih berperan dalam percaturan ekonomi dunia.

Keduanya (AS dan Cina) merupakan konsumen minyak terbesar di dunia. Besarnya industri yang mereka miliki otomatis memaksa kebutuhan akan minyak selalu tinggi. Dan perang dagang mereka pastinya berpengaruh pada negara lain.

Soal penghasil dan konsumen emas, Cina menjadi yang terbesar. Posisi Cina disusul Australia yang merupakan sekutu AS. Negara yang begitu peduli pada Papua. Entah benar-benar peduli atau modus karena Papua memiliki emas. Katanya sih Freepot memiliki tambang tembaga terbesar kedua di dunia.

Aceh dan Papua sama-sama memiliki tambang yang menggiurkan, tidak terkecuali bagi AS dan Cina. Sedikit keluar modal untuk mendapatkan hasil alam tersebut adalah wajar. Menjadi tidak wajar apabila agen mereka melakukan gerakan provokasi.

Isu HAM dan rasisime serta isu-isu kemanusiaan lainnya memang mujarab. Bukan berarti saya mendukung tindakan-tindakan tersebut. Namun kita patut mempertanyakan pada negara-negara yang getol soal isu tersebut. Apakah mereka tidak rasis pada komunitas yang kecil, misalnya perlakuan mereka terhadap muslim di negara mereka.

Mengapa mereka begitu bersemangat membahas Indonesia, menjadikan Aceh dan Papua sebagai proyek jangka panjang. Dalam perspektif ekonomi, dua daerah ini dapat dijadikan sumber cadangan minyak dan emas.

Bukan hanya dalam politik, dalam urusan ekonomi menghalalkan segala cara dianggap sah. Kompetisi sehat hanya di ruang akademik, para pelanggar HAM bicara vokal soal pelanggaran HAM. Ini yang sering terjadi. Apa mereka berani menantang Korea Utara soal pelanggaran HAM?

Seringya tidak konsisten negara-negara besar atas isu tersebut memberi satu kesimpulan. Mereka bicara bukan atas dasar motif kemanusiaan akan tetapi motif utama mereka adalah ekonomi. Ketika ekonomi sudah menjadi motif dibalik semua peristiwa, maka laba-rugi menjadi satu-satunya pertimbangan.

Selama Indonesia patuh pada keinginan mereka, atau Indonesia membagi daerah A untuk korporasi dari negara B dan daerah B untuk korporasi dari negara A, semua konflik bisa diredakan segera. Sehingga konflik di Papua dan Aceh tidak bisa dilepaskan dari kepentingan negara-negara pengincar sumber daya alam di daerah tersebut.

Meski memang ada yang alamiah namun skenario besar dibalik semua itu tetap ada. Setidaknya Polri sudah mencium gelagat itu. LSM dan aktivis yang merangkap sebagai agen piaran dari negara-negara besar tetap ada di Indonesia. Mereka kritis namun membawa kepentingan korporasi dan negara besar yang bersaing meraih SDA di Indonesia.

Maka kita harus cerdas membaca setiap skenario tersebut. Jangan sampai darah tumpah demi sesuatu yang sia-sia. Selamat ngopi dan jangan lupa bersyukur serta selalu gunakan akal sehat dalam menganalisa.