Aksi HMI cabang Langsa saat pelantikan anggota DPRK periode 2019-2024/acehbisnis.com

Gambar di atas merupakan ikhtiar para anak muda mengingatkan wakil mereka di kursi parlemen. Setelah usai berjanji selama beberapa bulan, mereka (wakil rakyat) akhirnya mendapat kesempatan menepati janjinya. Mereka resmi memegang amanat rakyat.

Dalam politik berjanji itu ibarat bernafas. Sebuah keharusan yang ketika tidur sekalipun mesti dilakukan. Tidak peduli jiwa sehat atau tidak, bernafas tetap harus dilakukan. Tidak peduli sedang nenggak miras, sabu, bahkan sedang membunuh sekalipun, bernafas tetap dilakukan, begitu pula dengan janji dalam politik.

Kita harus optimis meski tidak boleh terlena dengan wakil rakyat yang baru. Mereka orang-orang hebat namun kita mesti lebih hebat lagi. Jelas mereka wakil dari kita, salah jika mereka lebih pintar dari kita. Kecuali kita memang orang-orang yang tak tahu diri, yaitu; ketika kita menganggap mereka sebagai ‘dewa’ demokrasi.

Kebanyakan kita memang menganggap mereka sebagai ‘dewa’ demokrasi. Kita menggantungkan harapan terlalu besar pada mereka. Ceritanya terus berulang, tak pernah berakhir kecuali kita mau mengakhirinya. Itulah kesalahan pertama kita, sebagai pemilih. Jika mereka diposisikan sebagai wakil maka kita sebagai pemilih harus lebih cerdas.

Kalaupun tidak lebih cerdas, setidaknya jangan mau dibodohi. Jangan menjadi ‘kacung’ demokrasi. Berpikirlah sedikit karena berpikir tidak harus bayar, tidak berdosa dan tidak pula melanggar regulasi apapun di atas muka bumi. Justru berpikir merupakan anjuran agama, menjadi syarat administrasi memperoleh ilmu pengetahuan.

Wakil rakyat baru boleh jadi harapan baru. Namun kita tetap menjadikan mereka sebagai masalah baru. Memposisikan mereka sebagai masalah baru akan memacu kita untuk berusaha mencegah masalah itu agar tidak terjadi. Kalaupun nanti terjadi, harus ada solusi. Sebabnya mereka bersama eksekutif bukan hanya mengurusi regulasi akan tetapi penggunaan dana rakyat.

Pemilih cerdas bukan hanya saat pileg akan tetapi sesudahnya harus lebih cerdas lagi. Ketika wakil rakyat kritis kita sebagai pemilih harus lebih kritis. Apalagi jika mereka melempem, kita tidak boleh ikutan melempem. Ketika harus jadi pengawas yang militan. Berani berkata dengan dasar yang kuat. Mereka wakil kita bukan bos apalagi dewa.

Harus diingat bahwa wakil rakyat yang malfungsi merupakan salah satu kesalahan kita. Entah itu salah pilih maupun salah mengawasi. Mereka tidak boleh dibiarkan melaksanakan tugas tanpa pengawasan. Dengan menjamurnya media online pada hari ini, bentuk pengawasan terhadap mereka lebih mudah dilakukan. Jadi, mereka menjadi harapan baru atau masalah baru sangat bergantung pada militansi para pemilih.